Tampilkan postingan dengan label Penyakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit. Tampilkan semua postingan
Delapan Mitos Mata Menyesatkan

Delapan Mitos Mata Menyesatkan

Mitos mengenai penyakit mata dan pengobatannya telah lama beredar di tengah masyarakat Indonesia. Mitos ini disampaikan dari generasi ke generasi sehingga sebagian besar masyarakat percaya akan mitos tersebut.

1. Bintitan Timbul Karena Sering Mengintip
Tidak Benar
Bintitan atau dalam istilah kedokteran dikenal dengan nama hordeolum sebenarnya merupakan suatu infeksi pada kelenjar yang terdapat di kelopak mata. Umumnya infeksi ini disebabkan oleh suatu mikroorganisme yang dikenal dengan nama Staphylococcus aureus.

2. Makan Banyak Wortel Dapat Menyembuhkan Rabun Jauh
Tidak Benar
Rabun jauh (mata minus) dalam istilah kedokteran dikenal dengan nama miopia merupakan suatu gangguan penglihatan dimana mata tidak mampu untuk melihat benda yang jaraknya jauh sehingga pandangan menjadi kabur saat melihat benda jauh.

3. Membaca Dalam Posisi Tiduran Dapat Menyebabkan Rabun Jauh (Mata Minus)
Tidak Benar.
Rabun jauh (mata minus) dapat terjadi akibat adanya perubahan kelengkungan kornea, gangguan pada lensa mata atau karena memanjangnya sumbu bola mata. Posisi membaca tidak akan berpengaruh dalam memicu timbulnya rabun jauh. Membaca dalam posisi berbaring (tiduran) akan menimbulkan berbagai keluhan mata yang terjadi akibat mata lelah karena saat membaca dalam posisi berbaring tanpa disadari jarak antara mata dengan buku akan menjadi lebih dekat.

4. Menonton TV Terlalu Dekat Dapat Merusak Mata
Tidak Benar
Menonton TV terlalu dekat hanya akan menyebabkan mata terasa sakit dan tidak nyaman untuk sementara. Saat mata digunakan untuk menonton TV terlalu dekat maka otot-otot mata akan berakomodasi terus menerus dan mata cenderung lupa untuk berkedip sehingga mata menjadi cepat lelah dan kering. Hal ini menyebabkan kualitas penglihatan menjadi terganggu. Namun keluhan-keluhan ini hanya bersifat sementara.

5. Pengguna Kacamata Harus Selalu Menggunakan Kacamata Terus Menerus Untuk Mencegah Mata Bertambah Rusak
Tidak Benar
Jika pengguna kacamata melihat tanpa menggunakan kacamata, maka semua benda akan terlihat tidak fokus dan mata akan dipaksa bekerja lebih keras untuk memfokuskan benda tersebut. Mata yang dipaksa bekerja keras dengan berakomodasi terus menerus akan cepat menjadi lelah dan timbul keluhan berupa sakit kepala, mata perih, dan penglihatan kabur. Namun hal ini tidak akan menimbulkan kerusakan jangka panjang terhadap mata.

6. Semua Kebutaan Dapat Disembuhkan Dengan Donor Mata
Tidak benar
Yang dimaksud dengan donor mata dalam dunia kedokteran adalah mendonorkan bagian kornea mata, bukan mendonorkan bola mata seutuhnya. Kornea merupakan lapisan paling depan dari bola mata yang berwarna transparan. Kornea yang bersifat transparan ini akan meneruskan cahaya yang masuk ke mata menuju ke sel sel penerima cahaya di retina. Jika terjadi kerusakan pada kornea mata karena berbagai hal, seperti infeksi, trauma mata, dan lainnya, maka kornea mata dapat berubah menjadi keruh.

7. Mata Merah Disebabkan oleh Paparan Debu dan Asap
Tidak selalu benar.
Tidak semua mata merah disebabkan oleh debu dan asap. Mata merah dapat juga ditimbulkan akibat adanya iritasi oleh bahan kimia, alergi, ataupun infeksi, baik infeksi bakteri, virus ataupun jamur. Sangat penting untuk membedakan berbagai penyebab dari mata merah ini karena masing-masing memerlukan penanganan yang berbeda-beda.

8. Semua Mata Merah Dapat Diobati Dengan Obat Tetes Mata
Tidak selalu benar
Terdapat berbagai jenis obat tetes mata. Tergantung dengan penyebab timbulnya mata merah, maka tetes mata yang diberikan pun berbeda-beda. Jika pemilihan obat tetes mata tidak sesuai dengan penyebabnya maka keluhan mata merah dapat terus berlanjut bahkan menjadi bertambah parah. Mata merah yang disebabkan oleh glaucoma ataupun infeksi tidak dapat diobati dengan obat tetes mata yang dijual bebas di pasaran. Untuk mengatasi mata merah akibat infeksi pun tersedia beberapa jenis obat tetes mata yang berbeda tergantung penyebab infeksinya, apakah disebabkan oleh virus, jamur ataupun bakteri.

Tips Tetap Sehat Saat Hujan Tiba

Tips Tetap Sehat Saat Hujan Tiba

Musim hujan sedang melanda Indonesia. Intensitas hujan pun sering berubah-ubah tanpa tanda, mulai dari hujan ringan hingga lebat. Perubahan cuaca ini menuntut masyarakat agar lebih menjaga kesehatan supaya kondisi tubuh tak menurun.

Berubahnya kelembaban udara di lingkungan terbuka akan mempermudah virus, kuman dan bakteri yang terbawa angin masuk ke tubuh melalui udara yang kita hirup maupun berbagai makanan dan minuman yang kita konsumsi tiap harinya. Bahaya lainnya juga yaitu nyamuk demam berdarah serta berbagai keluhan kesehatan saat lingkungan sekitar terkena banjir. Mulai peduli dan tahu tentang menjaga kesehatan tubuh saat musim hujan mutlak diperlukan bagi kita semua. Sebelum terserang penyakit di musim hujan, sebaiknya lindungi diri Anda. Berikut Beberapa langkah sederhana untuk menjaga tubuh dari serangan penyakit di musim hujan:

1. Selalu Bawa Payung/Jas Hujan
Kehujanan dapat mengubah suhu tubuh Anda secara drastis yang menjadi kemungkinan terserang flu atau demam. Untuk menghindarinya, pertama lindungi diri Anda dari hujan dengan menggunakan payung. Ini adalah cara utama untuk menjaga tubuh dari luar.

2. Makanan Sehat
Memakan makanan sehat adalah hal paling sederhana untuk mencegah penyakit. Perbanyak konsumsi makanan yang mengandung vitamin C untuk meningkatkan sistem imun dalam tubuh. Imun tubuh yang kuat dapat melindungi Anda dari flu.

3. Cuci Tangan
Tangan merupakan tempat kuman dan virus berpindah. Dengan rajin mencuci tangan, terutama setelah diterpa hujan, akan membunuh virus yang menjadi penyebab utama demam dan flu. Gunakan air dan basuh kedua tangan dengan sabun hingga sela-sela jari, kuku, dan punggung tangan.

4. Jangan Pakai Sendal Jepit
Musim hujan bisa menyebabkan selokan jadi tersumbat dan banyak air tergenang. Dua tempat itu merupakan sumber penyakit seperti diare, flu, kolera, dan jamur di kulit. Tapi, musim hujan ini banyak sekali pengguna jalan yang lebih suka menggunakan sendal jepit karena dianggap lebih praktis dan lebih cepat kering.

Padahal, dengan kaki terbuka itu, kuman lebih mudah masuk. Sebaiknya gunakan sepatu tertutup seperti bot untuk musim hujan untuk melindungi kaki dari air kotor. Jangan lupa cuci kaki setelah tiba di rumah atau kantor.

5. Bersihkan Rumah
Populasi nyamuk semakin bertambah selama musim hujan. Agar nyamuk tak menyerang Anda, sebaiknya bersihkan rumah secara rutin. Perhatian parit, bak air, sudut, dan celah di rumah Anda yang mungkin menjadi sarang nyamuk.

6. Tambah Konsumsi Buah-Buahan
 Buah-buahan mengandung aneka jenis vitamin khususnya vitamin C yang dibutuhkan oleh tubuh untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh yang kita miliki. Jadi penting kiranya mulai membeli buah-buahan untuk di konsumsi selama musim hujan.


7. Jangan Lupa Olahraga Rutin
Mulailah untuk lebih menyemangati diri untuk berolahraga pagi, meskipun cuaca dan rute untuk berjalan kaki sangat tidak mendukung dan bersahabat dengan anda. Karena berolahraga akan membuat tubuh lebih sehat dan bugar saat menjalani aktivitas maupun pekerjaan dimusim penghujan.

8. Minuman Hangat Dan Sehat
Minuman hangat sekaligus menyehatkan sangat pas untuk diminum saat musim penghujan sekarang ini. Mulailah meracik minuman sehat yang anda gemari seperti secangkir teh hangat, segelas jahe hangat serta dapat pula segelas susu hangat.

9. Rutin Cuci Tangan
Udara yang lembab dan berbagai tempat yang lembab mengandung virus, kuman dan bakteri dan bisa menempel di tangan anda. Untuk itulah, sangat dianjurkan untuk lebih sering mencuci tangan baik saat mau makan maupun sehabis bekerja dan beraktivitas apapun di musim penghujan. 

Korban Ebola yang Mati Hidup Lagi ?

Zombie rasanya hanya ada pada game dan film-film fiksi saja. Jika kamu adalah seorang yang sangat menggemari film-film Amerika, pasti kamu pernah menonton film atau serial TV Amerika yang berjudul The Walking Dead. Film tersebut adalah serial horror drama mengenai kehidupan pasca kiamat di mana Bumi dipenuhi oleh para zombie yang mengancam kehidupan manusia.

Dalam film tersebut Zombie digambarkan sebagai sosok yang mengerikan dari jazad orang yang sudah meninggal kemudian bangkit lagi sebagai zombie yang berkeliaran mencari mangsa untuk menyantap otak manusia. Mengerikan bukan? Hal ini hanya ada di dalam film-film horror saja. Tapi, bagaimana jika hal itu benar-benar ada di dunia nyata? pasti banyak yang berkata 'ah, gak mungkin!'



Tapi, baru-baru ini hal ini memang benar-benar terjadi. Dikabarkan bahwa ada dua orang yang telah meninggal karena terjangkit virus Ebola kembali bangkit dari kematiannya dan dikabarkan menjadi zombie.

Dua orang tersebut adalah Dorris Quoi dan Ma Kebeh, mereka adalah pasien karena terjangkit penyakit Ebola yang baru-baru ini memang menjadi penyakit yang paling mengerikan di dunia.

Baca : Seputar Penyakit Ebola

Dorris Quoi dan Ma Kebeh yang sudah dinyatakan meninggal dunia, ternyata membuka mata ketika hendak di makamkan. Hal ini tentu saja membuat warga menjadi panik dan ketakutan. Dikabarkan sebelum meninggal, Kebeh sempat ada di luar rumah selama dua hari tanpa makanan dan obat.

Rupanya Ebola sendiri memang sudah menimbulkan banyak rumor dan desas-desus aneh di sana. Bahkan ada seorang dokter yang yakin bisa menyembuhkan pasien Ebola tetapi akhirnya tewas. Sejauh ini, Ebola memang menjadi virus mematikan di kawasan Afrika bagian barat. Ada 5.800 korban yang terjangkit virus ini dengan angka kematian menyentuh 2.800 orang.

Dari kasus zombie ebola ini, publik dunia menjadi geger lantaran ada dua orang yang sudah meninggal tapi bangkit lagi. Banyak yang beranggapan bahwa fenomena zombie ini memang benar-benar ada di dunia nyata. Bagaimana menurut kamu?

6 Tips Terhindar dari Kuman di Toilet Umum

Toilet umum adalah tempat yang kadang tidak menyenangkan untuk dikunjungi karena khawatir tertular kuman. Ketahui cara aman menggunakan dan menghindari kuman di toilet umum, seperti yang dikutip dari health.

1. Pilih Toilet yang Bersih

Banyaknya orang yang menggunakan toilet umum, menjadi penyebab kondisi toilet menjadi sangat kotor. Sebaiknya hindari toilet yang kotor dan pilih toilet yang paling dekat dengan pintu keluar kamar mandi. Para ahli menemukan bahwa toilet pertama atau toilet yang berada paling dekat dengan pintu masuk kamar mandi adalah toilet yang memiliki tingkat bakteri paling rendah. Hal ini karena orang cenderung memilih toilet yang paling ujung untuk privasi mereka. Mulai sekarang, pilihlah toilet yang dekat dengan pintu masuk karena cenderung lebih bersih dan tidak banyak mikroorganismenya.

2. Gunakan Kertas Alas Toilet

Walau agak merepotkan, kertas alas toilet bisa bantu Anda menghindari kuman yang ditinggalkan oleh pengguna toilet sebelum Anda. Kertas alas toilet ini sudah banyak dijual di pasaran, namun jika sulit menemukannya, Anda bisa memakai tisu toilet sebagai penggantinya.

3. Selalu Periksa Tisu Toilet

Sebelum memakai toilet, pastikan terlebih dulu bahwa stok tisu di dalam toilet masih ada. Selain untuk membersihkan tubuh, tisu juga bisa untuk membersihkan dudukan toilet sebelum menggunakannya.

4. Hindari Menaruh Tas di Lantai

Jangan meletakkan tas atau dompet di lantai kamar mandi, meskipun kelihatannya bersih. Jika terdapat gantungan, sebaiknya letakkan tas di sana atau sampirkan tas di bahu jika memang tidak ada tempat untuk menaruhnya. Selain itu, Anda juga harus menarik celana atau rok hingga mencapai betis untuk menghindari terkena semprotan air, tapi jangan terlalu rendah karena berisiko menyentuh lantai kamar mandi. Ini untuk menghindari terbawanya kuman dan bakteri yang ada di lantai toilet.

5. Jangan Lupa untuk Flush Toilet

Entah karena terburu-buru atau lupa, tak sedikit orang yang meninggalkan toilet tanpa menyiram (flush). Tentu saja hal tersebut merugikan orang lain yang akan menggunakan toilet setelahnya. Oleh sebab itu, jangan pernah lupa untuk membilas toilet ketika akan keluar dari kamar mandi agar mikroorganisme dari air toilet tidak menempel di tubuh dan membuat orang lain jijik.

6. Mencuci Tangan

Cara terbaik untuk melawan bakteri dan kuman adalah dengan benar-benar mencuci tangan. Pastikan Anda mencucinya dengan sabun dan air hangat jika tersedia. Gosok kedua sisi telapak tangan dan sela-sela jari selama 30 detik. Lakukan sebanyak dua kali agar hasil yang didapat lebih maksimal.

Semoga Bermanfaat.

Seputar Penyakit  Ebola

Seputar Penyakit Ebola

Ebola adalah virus Ebolavirus (EBOV), genus virus dan penyakit demam hemorrhagic Ebola (EHF), virus demam hemorrhagic (VHF). Terdapat empat spesies yang diakui dalam ebolavirus genus, yang memiliki nomor strain tertentu. '' Zaire virus'' adalah spesies tipenya, yang juga yang pertama ditemukan dan paling mematikan. Micrographs elektron menunjukkan panjang filamen, karakteristik keluarga virus Filoviridae. Virus mengganggu pada sel-sel endotel yang lapisan permukaan interior pembuluh darah dan kaskade. Sebagai dinding pembuluh darah yang rusak dan platelet mampu mengentalkan, pasien menyerah hypovolemic shock. Ebola ditularkan melalui cairan-cairan tubuh. Eksposur kulit dan conjunctiva juga dapat menyebabkan untuk transmisi, tetapi untuk tingkat yang lebih rendah. Ebola pertama muncul pada tahun 1976 di Zaire. Itu, bagaimanapun, tetap sebagian besar tidak jelas sampai 1989 dengan wabah luas dipublikasikan di Reston.

Ebola etimologi

Virus ini dinamai lembah Sungai Ebola di Republik Demokratik Kongo (dulunya Zaire), yang secara dekat situs pecahnya diakui pertama pada tahun 1976, sebuah rumah sakit misi yang dijalankan oleh biarawati Flandria.

Klasifikasi Ebola

Genera '' Ebolavirus'' dan '' Marburgvirus'' awalnya diklasifikasikan sebagai spesies dari genus '' Filovirus'' sekarang tidak ada. Pada Maret 1998, Subkomite Virus vertebrata diusulkan pada Komite Internasional pada taksonomi dari virus (ICTV) untuk mengubah genus '' Filovirus'' '' Filoviridae'' keluarga dengan dua genera tertentu: '' Virus Ebola-like'' dan '' virus Marburg-seperti ''. Proposal ini dilaksanakan di Washington, D.C. sebagai dari April 2001 dan di Paris sebagai Juli 2002. Pada tahun 2000, usulan lain dibuat di Washington, DC untuk mengubah "-seperti virus" untuk "-virus" mengakibatkan hari ini '' Ebolavirus'' dan '' Marburgvirus''.
Tingkat perubahan genetik seratus kali lebih lambat dari Influenza A pada manusia, tetapi pada besarnya sama yang Hepatitis B. menggunakan angka ini, dan Ebolavirus Marburgvirus diperkirakan telah menyimpang beberapa ribu tahun yang lalu.
Zaire virus (ZEBOV): '' Zaire virus'', sebelumnya bernama '' Zaire Ebola Virus'', memiliki tingkat fatalitas kasus tertinggi, hingga 90% pada epidemi, dengan rata-rata kasus tingkat kematian sekitar 83% lebih dari 27 tahun. Ada lebih wabah '' Zaire ebolavirus'' dari spesies lain. Serangan pertama terjadi pada 26 Agustus 1976 di Yambuku. Mabalo Lokela, seorang guru sekolah berusia 44 tahun, menjadi kasus pertama yang tercatat. Gejala mirip malaria, dan berikutnya pasien yang menerima Kina. Transmisi awal diyakini karena menggunakan kembali jarum untuk Lokela's injeksi tanpa sterilisasi. Transmisi berikutnya adalah juga karena kurangnya perawat penghalang dan metode persiapan pemakaman tradisional, yang melibatkan cuci dan pencernaan pembersihan.
Sudan ebolavirus (SEBOV): virus adalah spesies kedua Ebola yang muncul dengan '' Zaire virus''. Diyakini berasal di antara pekerja pabrik kapas di Nzara, Sudan, dengan kasus pertama yang dilaporkan sebagai seorang pekerja yang terpapar reservoir alami yang potensial. Ilmuwan diuji semua jenis binatang dan serangga dalam menanggapi ini; Namun, tidak ada diuji positif untuk virus. Kapal induk masih belum diketahui. Kurangnya perawatan penghalang memfasilitasi penyebaran penyakit. Pecahnya terbaru terjadi pada Mei 2004. 20 dikonfirmasi kasus yang dilaporkan di Yambio County, Sudan, dengan lima kematian yang dihasilkan. Rata-rata tingkat fatalitas adalah 54% pada tahun 1976, 68% pada tahun 1979 dan 53% pada tahun 2000 dan 2001.
Reston ebolavirus (REBOV): ditemukan selama pecahnya virus Simian demam hemorrhagic (SHFV) di makan kepiting kera dari Hazleton laboratorium (sekarang Covance) pada tahun 1989. Sejak awal wabah di Reston, itu telah muncul di Filipina, Siena Italia, Texas, dan antara babi di Filipina. Meskipun statusnya sebagai organisme tingkat-4, non-patogenik manusia namun berbahaya di monyet.
Cote d'Ivoire ebolavirus (CIEBOV): juga disebut sebagai '' Pantai Gading ebolavirus'' dan '' Tai ebolavirus'', itu pertama kali ditemukan di antara simpanse dari Tai hutan di Pantai Gading, Afrika pada 1 November 1994. Pembedahan menunjukkan darah dalam jantung tanda cokelat, tidak jelas terlihat pada organ, dan paru-paru nekropsi yang ditampilkan salah satu yang penuh dengan darah. Penelitian dari jaringan yang diambil dari simpanse menunjukkan hasil mirip dengan kasus manusia selama wabah Ebola 1976 di Zaire dan Sudan. Simpanse mati karena lebih banyak ditemukan, dengan banyak pengujian positif untuk Ebola yang menggunakan teknik molekuler. Sumber kontaminasi diyakini daging terinfeksi Barat merah Colobus monyet, yang simpanse berburu keras. Salah satu ilmuwan yang melakukan pembedahan pada simpanse terinfeksi dikontrak Ebola. Ia mengembangkan gejala-gejala yang mirip dengan demam berdarah demam sekitar seminggu setelah nekropsi, dan dibawa ke Swiss untuk perawatan. Dia dipulangkan dari rumah sakit setelah dua minggu dan telah sepenuhnya pulih enam minggu setelah infeksi.
Bundibugyo ebolavirus: pada tanggal 24 November 2007, Departemen Kesehatan Uganda dikonfirmasi wabah Ebola di distrik Bundibugyo. Setelah konfirmasi sampel yang diuji oleh laboratorium rujukan Nasional Amerika Serikat dan CDC, World Health Organization dikonfirmasi kehadiran spesies baru. Pada 20 Februari 2008, Departemen Uganda secara resmi mengumumkan akhir epidemi di Bundibugyo dengan orang terakhir yang terinfeksi habis pada 8 Januari 2008. Uganda pejabat mengkonfirmasi total 149 kasus Ebola spesies baru ini, dengan 37 kematian yang dikaitkan dengan ketegangan (24.83%).

Ebola virologi

Struktur

Elektron micrographs anggota genus '' Ebolavirus'' menunjukkan mereka memiliki karakteristik struktur thread-seperti filovirus. EBOV VP30 adalah sekitar 288 asam amino yang panjang. Virions tubular dalam bentuk umum tetapi variabel dalam bentuk keseluruhan dan mungkin muncul sebagai gembala klasik crook atau eyebolt, sebagai '' U'' atau '' 6'', atau menjadi, melingkar, atau bercabang. Namun, teknik pemurnian laboratorium, seperti centrifugation, dapat berkontribusi untuk beberapa. Virions yang umumnya 80 nm diameter dengan menembus lipid dua lapis penahan glikoprotein yang proyek 7 sampai 10 nm paku panjang dari permukaan. Mereka adalah panjang variabel, biasanya sekitar 800 nm, tetapi Mei sampai dengan 1000 nm panjang. Di tengah-tengah virion adalah suatu struktur yang disebut '' nucleocapsid'', yang dibentuk oleh komponen-luka virus genom RNA complexed dengan protein NP, VP35, VP30, dan L. Ini memiliki diameter 80 nm dan berisi saluran pusat 20–30 nm in diameter. Dikodekan virally glikoprotein (GP) paku 10 nm panjang dan 10 nm terpisah yang hadir di luar amplop virus virion, yang berasal dari membran sel yang di-host. Antara amplop dan nucleocapsid, di ruang disebut matriks, protein viral VP40 dan VP24 berada.

Genom

Virion masing-masing berisi satu molekul linear tunggal, negatif-sense RNA, 18,959 untuk 18,961 nukleotida panjangnya. Ujung 3 ' tidak polyadenylated dan ujung 5 ' tidak tertutup. Ditemukan nukleotida 472 dari ujung 3' dan 731 nukleotida dari 5' akhir yang cukup untuk replikasi. Kode untuk tujuh struktural protein dan satu non-struktural protein. Urutan gen merupakan 3 ' - pemimpin - NP - VP35 - VP40 - GP/sGP - VP30 - VP24 - L - trailer - 5 '; dengan pemimpin dan trailer menjadi non-ditranskripsi daerah, yang membawa sinyal penting untuk mengontrol transkripsi, replikasi, dan kemasan genom virus ke dalam virions baru. Materi genomik dengan sendirinya tidak menular, karena protein viral, di antara mereka bergantung RNA RNA polimerase, diperlukan untuk menuliskan genetika virus ke mRNAs, serta untuk replikasi genetika virus.

Replikasi

Virus tidak tumbuh melalui pembelahan sel, karena mereka tidak sel (aselular); Sebaliknya, mereka menggunakan mesin dan metabolisme sel untuk menghasilkan beberapa salinan dari diri mereka sendiri, dan mereka berkumpul di sel.

Ebola epidemiologi

Waduk alam

Antara tahun 1976 dan 1998, dari 30.000 Mamalia, burung, reptil, amfibia dan arthropoda sampel dari wabah daerah, tidak '' Ebolavirus'' terdeteksi selain beberapa materi genetik yang ditemukan di enam tikus ('' Mus setulosus'' dan '' Praomys'') dan satu pemberang ('' Sylvisorex ollula'') dikumpulkan dari Republik Afrika Tengah. Virus terdeteksi di bangkai gorila, simpanse dan duikers selama wabah pada tahun 2001 dan 2003, yang kemudian menjadi sumber infeksi manusia. Namun, kematian yang tinggi dari infeksi pada spesies ini membuat mereka tidak mungkin sebagai waduk alami. Kelelawar diketahui berada di pabrik kapas di mana indeks kasus untuk 1976 dan 1979 wabah yang bekerja, dan mereka juga telah terlibat dalam Marburg infeksi pada tahun 1975 dan 1980. Tidak adanya tanda-tanda klinis pada kelelawar ini adalah karakteristik spesies reservoir. Dalam sebuah survei 2002–2003 1,030 hewan yang termasuk 679 kelelawar dari Gabon dan Republik Kongo, 13 buah kelelawar yang ditemukan mengandung '' Ebolavirus'' RNA. Pada tahun 2005, tiga spesies kelelawar ('' Hypsignathus monstrosus'', '' Epomops franqueti'' dan '' Myonycteris torquata'') telah diidentifikasi sebagai membawa virus tetap asimtomatik. Mereka diyakini menjadi alami spesies, atau reservoir, virus.
Reston ebolavirus-tidak seperti rekan-rekan Afrika-non-patogenik, non-mematikan pada manusia. Telah didokumentasikan dalam simpanse dan babi; Walaupun kematian yang tinggi di antara monyet, dan kemunculannya baru-baru ini di babi, membuat mereka tidak mungkin alam waduk.

Transmisi

Buah-buahan drop sebagian dimakan kelelawar dan pulp, mamalia darat seperti gorila dan duikers makan buah-buahan yang jatuh ini. Rantai peristiwa-peristiwa membentuk cara tidak langsung yang mungkin untuk transmisi dari host alami pada populasi hewan, yang telah memimpin penelitian terhadap virus penumpahan pada air ludah dari kelelawar. Buah produksi, perilaku hewan, dan faktor lainnya bervariasi pada waktu yang berbeda dan tempat-tempat yang dapat memicu wabah di antara populasi hewan. Transmisi antara waduk alam dan manusia langka, dan wabah biasanya dilacak ke indeks satu kasus di mana seorang individu telah menangani bangkai gorila, simpanse, atau duiker. Virus kemudian menyebar person-to-person, terutama dalam keluarga, rumah sakit, dan selama beberapa ritual mayat di mana kontak di antara individu menjadi lebih mungkin.
Virus telah dikonfirmasi untuk ditransmisikan melalui cairan-cairan tubuh. Transmisi melalui eksposur lisan dan melalui conjunctiva eksposur mungkin, yang telah dikonfirmasi pada primata non-manusia. Filoviruses tidak alami ditransmisikan oleh aerosol. Mereka adalah, namun, sangat menular sebagai bernapas 0,8-1.2 mikron tetesan dalam laboratorium; karena dari rute ini potensi infeksi virus ini telah diklasifikasikan sebagai senjata biologis Kategori A.
Semua epidemi Ebola terjadi dalam kondisi sub rumah sakit, di mana praktek-praktek dasar pengecekan hygiene dan sanitasi yang sering kemewahan baik atau tidak diketahui pengasuh dan di mana sekali pakai jarum dan autoclaves tidak tersedia atau terlalu mahal. Di rumah-sakit modern dengan sekali pakai jarum dan pengetahuan dasar kebersihan dan penghalang Keperawatan teknik, Ebola telah pernah menyebar dalam skala besar. Dalam pengaturan terisolasi seperti rumah sakit quarantined atau desa, sebagian besar korban yang terinfeksi tak lama setelah ada kasus pertama dari infeksi. Cepat timbulnya gejala dari waktu menjadi penyakit menular pada individu membuatnya mudah untuk mengidentifikasi individu-individu yang sakit dan membatasi kemampuan individu untuk menyebarkan penyakit dengan perjalanan. Karena tubuh almarhum masih menular, beberapa dokter harus mengambil langkah-langkah untuk benar membuang mayat-mayat dalam cara yang aman meskipun ritual pemakaman tradisional lokal.

Prevalensi

Wabah Ebola, dengan pengecualian dari Reston ebolavirus, terutama telah dibatasi ke Afrika. Virus sering mengkonsumsi penduduk, pemerintah dan individu dengan cepat menanggapi untuk karantina daerah, dan kurangnya jalan dan transportasi-membantu untuk mengandung pecahnya.
Vaksin telah berhasil dilindungi primata non-manusia, namun enam bulan yang diperlukan untuk menyelesaikan imunisasi yang membuatnya tidak praktis dalam sebuah epidemi. Untuk mengatasi masalah ini pada tahun 2003 vaksin yang menggunakan adenoviral (ADV) vektor membawa Ebola spike protein diuji pada makan kepiting kera. Monyet-monyet yang menantang dengan virus Duapuluh Delapan hari kemudian, dan tetap tahan. Pada tahun 2005 vaksin yang didasarkan pada stomatitis vesicular rekombinan berasal dari selubung virus (VSV) vektor membawa Ebola glikoprotein atau glikoprotein Marburg berhasil dilindungi primata non-manusia, membuka uji klinis pada manusia. Pada bulan Oktober studi selesai sidang manusia pertama yang memberikan tiga vaksinasi selama tiga bulan menunjukkan kemampuan aman merangsang respon imun. Individu diikuti selama setahun, dan pada tahun 2006 sebuah studi pengujian lebih cepat-bertindak, satu tembakan vaksin mulai. Studi ini dijadwalkan selesai tahun 2008.

Gejala

Periode inkubasi-nya dapat berkisar dari 2 sampai 21 hari tetapi umumnya 5-10 hari. Gejala bervariasi dan sering muncul tiba-tiba. Awal gejala termasuk demam tinggi (setidaknya 38.8 ° C, 101.8 ° F), sakit kepala parah, otot, bersama, atau sakit perut, kelemahan parah, kelelahan, sakit tenggorokan, mual, pusing, internal dan eksternal pendarahan. Sebelum pecahnya dugaan, gejala-gejala awal ini dengan mudah keliru untuk malaria, demam tipus, disentri, influenza, atau berbagai infeksi bakteri, yang semua jauh lebih umum dan dapat diandalkan kurang fatal.
Ebola mungkin kemajuan menyebabkan gejala yang lebih serius, seperti diare, kotoran berdarah atau gelap, muntah darah, mata merah distension dan pendarahan arteriola sclerotic, petechia, penyakit ruam dan purpura. Gejala lain, sekunder termasuk hipotensi (tekanan darah rendah), hypovolemia dan tachycardia. Interior pendarahan yang disebabkan oleh reaksi antara virus dan platelet yang memproduksi bahan kimia yang akan dipotong sel-ukuran lubang dinding kapiler.
Kadang-kadang, internal dan eksternal pendarahan dari lubang, seperti hidung dan mulut, juga dapat terjadi, juga dari luka-luka yang sembuh belum sepenuhnya diketahui cirinya seperti jarum-lubang situs. Ebola virus dapat mempengaruhi tingkat sel darah putih dan platelet, mengganggu pembekuan. Lebih dari 50% dari pasien akan mengembangkan beberapa derajat hemorrhaging.

Diagnosis

Metode diagnosis Ebola termasuk pengujian sampel air liur dan urin. Ebola didiagnosis dengan tes Enzyme-Linked ImmunoSorbent Assay (ELISA). Metode diagnosis ini telah menghasilkan hasil yang berpotensi ambigu selama situasi non-wabah. Setelah Reston, dan dalam upaya untuk mengevaluasi asli uji, Dr Karl Johnson dari CDC diuji San Blas Indian dari Amerika Tengah, yang tidak punya sejarah Ebola infeksi, dan mengamati 2% hasil positif. Peneliti lain kemudian diuji sera dari penduduk asli Amerika di Alaska dan menemukan persentase yang sama hasil positif. Untuk memerangi positif palsu, tes lebih kompleks yang didasarkan pada sistem ELISA dikembangkan oleh Tom Kzaisek di USAMRIID, yang kemudian diperbaiki dengan antibodi Immunofluorescent analisis (IFA). Namun tidak digunakan selama serosurvey mengikuti Reston. Tes ini tidak tersedia secara komersial.

Perawatan

Ada tidak ada standar perawatan untuk Ebola demam hemorrhagic. Perawatan terutama mendukung dan termasuk meminimalkan prosedur invasif, menyeimbangkan elektrolit, dan, karena pasien sering mengalami dehidrasi, menggantikan hilang kaskade faktor untuk membantu menghentikan pendarahan, mempertahankan tingkat oksigen dan darah, dan memperlakukan semua infeksi yang rumit. Pusat plasma (faktor-faktor dari orang-orang yang terlestarikan Ebola infeksi) menunjukkan janji sebagai pengobatan untuk penyakit. Ribavirin tidak efektif. Interferon juga dianggap tidak efektif. Dalam monyet, administrasi inhibitor kaskade (rNAPc2) telah menunjukkan beberapa manfaat, melindungi 33% dari hewan yang terinfeksi dari biasanya 100% (untuk monyet) mematikan infeksi (Namun, inokulasi ini tidak bekerja pada manusia). Pada awal 2006, para ilmuwan di USAMRIID mengumumkan tingkat 75% pemulihan setelah menginfeksi empat Monyet rhesus dengan '' Ebolavirus'' dan pemberian obat-obatan antisense Morpholino. Pengembangan antisense Morpholino peningkatan conjugated dengan sel menembus peptida sedang berlangsung.

Prognosis

Ebola hemorrhagic demam mematikan dan mencakup berbagai gejala termasuk demam, muntah, diare, sakit umum atau malaise, dan kadang-kadang internal dan eksternal pendarahan. Rentang waktu dari onset gejala mati adalah biasanya antara 2 dan 21 hari. Pada minggu kedua infeksi, pasien akan baik defervesce (the demam akan mengurangi) atau mengalami kegagalan sistemik multi-organ. Tingkat kematian biasanya tinggi, dengan tingkat fatalitas kasus manusia yang berkisar 50–89%, tergantung pada spesies atau strain virus. Penyebab kematian ini biasanya disebabkan oleh kegagalan shock atau organ hypovolemic.

Ebola Osifikasi

Wabah Ebola di antara populasi manusia umumnya menghasilkan dari penanganan bangkai binatang liar yang terinfeksi. Penurunan populasi hewan umumnya mendahului wabah di antara populasi manusia. Ini telah mengakibatkan pengawasan 2003 populasi hewan untuk memprediksi dan mencegah Ebola wabah.
Wabah Ebola telah menunjukkan penurunan diamati 88% di simpanse populasi pada tahun 2003.
Reston ebolavirus, yang telah tidak sebelumnya wabah di Afrika dan non-patogenik pada manusia, baru-baru ini diakui di populasi babi di Filipina; penemuan ini menunjukkan bahwa virus telah beredar sejak dan mungkin sebelum penemuan awal Reston ebolavirus pada tahun 1989 di antara monyet.

Sejarah Ebola

Munculnya

Ebolavirus pertama kali muncul pada tahun 1976 di wabah Ebola demam hemorrhagic di Zaire dan Sudan. Strain Ebola yang pecah di Zaire memiliki salah satu tingkat fatalitas kasus tertinggi dari virus patogen manusia, sekitar 90%, dengan tingkat fatalitas kasus di 88% pada tahun 1976, 59% pada tahun 1994, 81% pada tahun 1995, 73% pada tahun 1996, 80% pada 2001-2002, dan 90% pada tahun 2003. Ketegangan yang pecah kemudian di Sudan memiliki tingkat fatalitas kasus sekitar 50%.
Sementara menyelidiki wabah Simian demam hemorrhagic (SHFV) pada November 1989, elektron microscopist dari USAMRIID ditemukan filoviruses mirip Ebola di jaringan sampel yang diambil dari monyet pemakan kepiting yang diimpor dari Filipina ke Hazleton laboratorium Reston. Berkat lethality dicurigai dan sebelumnya jelas virus, penyelidikan dengan cepat menarik perhatian.
Sampel darah yang diambil dari 178 hewan penangan selama insiden. Orang-orang, enam hewan penangan akhirnya seroconverted. Ketika penangan gagal menjadi sakit, CDC menyimpulkan bahwa virus telah pathogenicity sangat rendah untuk manusia.
Filipina dan Amerika Serikat telah tidak ada kasus yang sebelumnya infeksi, dan atas isolasi lebih lanjut menyimpulkan lain jenis Ebola atau filovirus baru Asia, dan bernama '' Reston ebolavirus'' (REBOV) setelah lokasi kejadian.

Kasus baru-baru ini

Pada tahun 1992, anggota Jepang Aum Shinrikyo pemujaan dianggap menggunakan Ebola sebagai senjata teror. Pemimpin mereka, Shoko Asahara, mengakibatkan sekitar empat puluh anggota Zaire dengan kedok menawarkan bantuan medis kepada korban Ebola dalam upaya dianggap untuk memperoleh sampel virus. Karena virus tinggi morbiditas, itu adalah agen yang potensial untuk senjata biologis.
Mengingat sifat mematikan Ebola, dan, karena tidak ada vaksin disetujui atau perawatan tersedia, itu diklasifikasikan sebagai agen tingkat 4 biosafety, serta agen bioterorisme Kategori A oleh Centers for Disease Control and Prevention. Ini memiliki potensi untuk weaponized untuk digunakan dalam senjata biologis. Efektivitas sebagai senjata biologis terganggu oleh lethality yang cepat sebagai pasien dengan cepat mati sebelum mereka dapat secara efektif penyebaran penyakit menular.
Perhatian yang dikumpulkan dari wabah di Reston mendorong peningkatan kepentingan publik, yang mengarah ke penerbitan karya-karya fiksinya yang banyak.
BBC melaporkan bahwa dalam sebuah penelitian yang sering wabah ebola telah mengakibatkan kematian 5.000 gorila.
30 Agustus 2007, 103 orang (100 orang dewasa dan anak-anak tiga) terinfeksi oleh wabah dicurigai demam hemorrhagic di desa Kampungu, Republik Demokratik Kongo. Pecahnya dimulai setelah pemakaman dua kepala desa, dan orang-orang yang 217 di empat desa jatuh sakit. Organisasi Kesehatan Dunia mengirim tim untuk mengambil sampel darah untuk analisis dan menegaskan bahwa banyak kasus hasil '' Ebolavirus''. Kongo terakhir utama Ebola epidemi membunuh 245 orang pada tahun 1995 Kikwit, sekitar 200 km dari sumber wabah Agustus 2007.
Pada tanggal 30 November 2007, Departemen Kesehatan Uganda dikonfirmasi wabah Ebola di distrik Bundibugyo. Setelah konfirmasi sampel yang diuji oleh laboratorium rujukan Nasional Amerika Serikat dan pusat pengendalian penyakit, World Health Organization dikonfirmasi kehadiran spesies baru '' Ebolavirus'' yang kini sementara dinamai Bundibugyo. Epidemi datang resmi berakhir pada 20 Februari 2008. Sementara itu berlangsung, 149 kasus strain baru ini dilaporkan, dan 37 dari mereka menyebabkan kematian.
Simposium Internasional untuk mengeksplorasi lingkungan dan filovirus, sistem sel dan interaksi filovirus, dan filovirus perawatan, dan pencegahan adalah yang akan diadakan di pusat Culturel Français, Libreville, Gabon selama Maret 2008. Virus muncul di selatan provinsi Kasai Barat pada tanggal 27 November 2008, dan darah dan bangku sampel dikirim ke laboratorium di Gabon dan Afrika Selatan untuk identifikasi.
Penyakit misterius yang telah membunuh sebelas dan terinfeksi dua puluh satu orang di selatan Republik Demokratik Kongo telah diidentifikasi sebagai Ebola virus. Doctors Without Borders laporan kematian 11 Senin 29 Desember 2008 di provinsi Kasai Barat Republik Demokratik Kongo. Dikatakan bahwa lebih lanjut 24 kasus sedang dirawat. Pada Januari 2009, Angola ditutup bagian perbatasan mereka dengan DRC untuk mencegah penyebaran ebola.
Pada Maret 12, 2009, teridentifikasi perempuan berusia 45 tahun ilmuwan dari Jerman secara tidak sengaja ditusuk jarinya dengan jarum yang digunakan untuk menyuntikkan Ebola ke laboratorium tikus. Dia diberi vaksin eksperimental pernah digunakan pada manusia. Karena periode puncak untuk wabah selama periode inkubasi Ebola 21-hari berlalu 2 April 2009, dia telah dinyatakan sehat dan aman. Masih belum jelas apakah atau tidak dia pernah benar-benar terinfeksi dengan virus.
Penyebab, Gejala, Pencegahan Radang Selaput Otak (Meningitis)

Penyebab, Gejala, Pencegahan Radang Selaput Otak (Meningitis)

Meningitis - Radang Selaput OtakPenyakit Radang Selaput Otak (Meningitis) adalah sebuah penyakit yang belum familar di telingga kita. Penyakit ini sekaranag sudah kembali tenar di kalangan masyarakat terlebih setelah penyakit ini di derita oleh presenter sekaligus komedian kondang yaitu Olga Syahputra ( Olga ). Penyakit Meningitis sendiri merupakan penyakit yang terjadi akibat infeksi meninges atau yang lebih di kenal dengan selaput yang melindungi sistem syaraf pusat pada tubuh manusia. Berikut penyebab, gejala, serta cara mencegah penyakit Meningitis.

Penyebab Meningitis
Penyebab penyakit meningitis ini bukan termasuk virus yang berbahaya, tetapi jika tidak segera di tangani bisa berakibat buruk pada kesehatan kita di antaranya kurangnya daya ingat, kerusakan otak, pendengaran yang berkurang, bahkan berakibat kematian jika tidak di tangani dengan serius. Pada awalnya virus penyebab penyakit ini menginfeksi bagian tubuh penderita kemudian mengalir masuk ke sel sel syaraf pusat ( otak ). Selain virus, bakteri dan jamur turut ambil alih dalam penyakit ini meskipun jarang kita jumpai. Adapun beberapa bakteri yang menyebabkan penyebab penyakit meningitis adalah:

  1. Listeria monocytogenes,
  2. Mycobacterium tuberculosis
  3. Neisseria meningitidis
  4. Haemophilus influenzae, serta
  5. Staphylococcus aureus.

Gejala-gejala Meningitis
A. Gejala Ringan

  1.  Sakit Kepala.
  2.  Mengalami demam ringan serta kelelahan yang berlangsung kurang lebih 2-3 hari pada beberapa pasien.
  3.  Penurunan nafsu makan.
  4.  Kepekaan terhadap cahaya terang.
  5.  Kebingungan dan kantuk.
B. Gejala yang lebih parah dan terjadi secara tiba tiba.

  1. Leher demam
  2.  Mual dan muntah
  3.  Sakit kepala dan kaku.

Cara Mencegah Meningitis

  1. Menjaga Kebersiahan. Penyakit meningitis dapat dicegah dengan cara meningkatkan kebersihan. Yang paling penting adalah teknik mencuci tangan yang tepat. Cucitangan dengan sabun dan air hangat. Gosok tangan dalam kurun waktu10-20 detik, pastikan membersihkan tepat dibawah kuku. Bersihkan dengan air hangat yang mengalir. Kemudian keringkan tangan menggunakan handuk.
  2. Menutup hidung saat bersin atau batuk.
  3. Hindari berbagi gelas, cangkir, botol air yang digunakan pada waktu olahraga atau rekreasi, rokok dll.
  4. Mencuci tangan yang benar sangat diperlukan untuk menghilangkan kontaminasi tinja setelah BAB, mengganti popok dan sebagainya.
  5. Gunakanlah anti biotik saat bersama dengan orang orang yang terjangkit virus. Hal ini digunakan untuk mencegah mudahnya vius radang selaput otak menyebar.
Itulah beberapa penyabab, gejala, dan cara mencegah penyakit radang selaput otak ( meningitis ). Jadi marilah biasakan hidup sehat karena mencegah lebih baik dari pada mengobati.