Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Gerhana Bulan di Seluruh Indonesia 4 April 2015

Gerhana bulan April 2015, Bagaimana Cara Melihatnya ?  - gejala alam gerhana bulan akan menyapa Indonesia, Sabtu (2015/04/04),. Bulan merah darah yang dapat dipandang dari seluruh Indonesia.

Bagian yang paling menarik merupakan bahwa gejala alam tersebut mampu diamati, beberapa trik yang diperlukan. Hal yang harus diperhatikan adalah lokasi pengamatan, masa pengamatan, serta arah pandang bersama alat-alat.

Bagian yang paling menarik dari Lunar Eclipse merupakan totalitasnya. Saat itulah bln akan berada di daerah bayangan bumi beserta berubah merah darah. Totalitas Eclipse yang akan terjadi kemudian antara 18,58-19: 02 GMT, 19: 58-20,02 WITA, atau 20,58-21,02 WIB.



Berdasarkan ketika ini, bulan masih jauh dari publikasi saat gerhana terjadi. Jadi, buat mengamati totalitas Eclipse, pengamat harus mengarahkan mata ke Timur.

Lokasi pengamatan harus daerah yang jauh dari polusi cahaya beserta lapang, tidak ada benda yang menghalangi pandangan, terutama di Timur. Lokasi yang dapat persegi atau di lantai atas sebuah gedung.

Bila engkau ingin mengabadikan fenomena gerhana, ada baiknya memilih lokasi yang dekat dengan lokasi ke foto yang lebih menarik. Warga, umpamanya, dapat menangkap Eclipse dekat monumen nasional bersama kota tua.

Waktu pengamatan dapat menyesuaikan diri dengan kepentingan, ingin mengamati semua tahapan Eclipse atau hanya mau totalitasnya. Hanya saja, perlu diingat bahwa hanya warga Indonesia Timur bisa memandang semua tahapan Eclipse.

Lunar Eclipse fase dimulai saat bln memasuki bayangan Bumi up atau penumbra. Fase ini akan dimulai pada pukul 7 malam, di 16: 17: 02, atau WIT di 18. Dengan demikian, hanya warga Indonesia Timur yang bisa melihatnya.

Bln akan memasuki area bayangan inti bumi atau umbra, pukul 17 WIB di, pada 18 atau 19: 16: 30 WIT. Pada ketika ini, akan ada sebagian Lunar Eclipse. Fase ini mampu dipandang oleh warga Tengah dan Indonesia Timur.

Tahap totalitas dari Eclipse dapat dilihat oleh semua warga Indonesia. Demikian pun, tahap akhir dari umbra dan penumbra. Fenomena gerhana dapat dipandang sampai nanti malam pukul 20 WIB.

Lunar Eclipse kali ini unik sebab tiga hal, menjadi satu-satunya Eclipse yang bisa dilihat dari Indonesia pada tahun 2015, adalah yang ketiga dari serangkaian Eclipse Lunar Eclipse tetrad, serta terpendek dari abad ke-21 Imlek Eclipse dengan totalitas hanya 4 menit 43 detik.

Dengan keunikan, Eclipse akan menarik buat menonton. Warna merah darah, diperkirakan gerhana nanti tidak akan segelap biasanya karena jarak Bumi dan bln relatif jauh. Melalui pengamatan, kamu mampu memandang, apa sih Eclipse Semerah nanti?

Fenomena Gerhana diprediksi melalui perhitungan. The Eclipse akan cukup kontroversial sebab berbagai model perhitungan menghasilkan berbagai gejala alam Lunar Eclipse, serta durasi gerhananya Summit.

Pelaksanaan Starry Night astronomi beserta Stellarium menunjukkan, sebuah fenomena yang akan terjadi di kemudian hari merupakan bagian Lunar Eclipse. Perhitungan Penerbangan beserta ruang kantor di Amerika Serikat menunjukkan, sebuah gejala alam yang terjadi kemudian adalah gerhana bln total.

Dengan Eclipse merukyat kemudian, kamu dapat mengambil perhitungan yang betul membuktikan. Apapun jenis fenomenanya nanti, ia akan tetap penting untuk memperbaikai sistem perhitungan memerkirakan untuk gejala alam astronomi.

Rencana Pemindahan Ibukota

Yang dimaksud dengan Ibu Kota adalah Kota utama di sebuah Negara.  Kota yang memiliki fungsi utama sebagai Pusat Pemerintahan. Sebuah kota di mana presiden, menteri dan anggota parlemen tinggal dan berkantor. Ibu Kota tidak harus menjadi kota perekonomian terbesar di negaranya. Beberapa contoh Negara besar seperti Amerika Serikat, Australia dan Brazil ibukotanya bukanlah di kota teramai atau kota terbesar. Amerika Serikat beribukota di Washington DC, kota terbesarnya adalah New York. Australia beribukota di Canbera, kota terbesarnya adalah Sydney. Brazil beribukota di Brasilia, kota terbesarnya adalah Rio de Janeiro. Pada area regional, negara tetangga kita Malaysia secara bertahap mulai memindahkan ibu kotanya ke Putrajaya, Kota terbesar Malaysia adalah Kuala Lumpur.
Tentu saja, kita juga mengenal Inggris dan Jepang, yang Ibukota Pemerintahan serta pusat bisnis diletakkan di satu kota yang sama: Inggris di London sedangkan Jepang di Tokyo. Dengan fokus ke satu kota saja, koordinasi lebih mudah sehingga perekonomian negara bisa dipacu lebih baik. “ Ya sudah, itu mereka bisa, kita begitu saja.”
Tapi tunggu dulu, unsur yang tidak kalah pentingnya adalah pertimbangan tentang luasan wilayah suatu negara yang bersangkutan. UK dan Jepang tentu saja cocok memiliki sistem ibu kota dengan satu kota utama untuk mengatur segala aspek kenegaraan karena luas wilayahnya yang tidak seluas kita. Cakupan wilayah dan beban Inggris dan Jepang jauh di bawah Indonesia. Kita tidak bisa dibandingkan dengan 2 negara ini, Pulau Great Britain/ Britania Raya tidak lebih luas dari Kalimantan. Sedangkan Pulau Hokaido dan Honsyu Jepang jika disatukan pun masih jauh di bawah luasannya dibanding Pulau Sumatera.
Kita Bukan Inggris atau Jepang — Negara kita Besar dan Luas dengan 16000 pulau terpisahkan lautan, sebuah tantangan besar. Kita Lebih cocok dibandingkan dengan Australia, Amerika Serikat ataupun Brazil.
– Sebuah Konsep Pemisahkan Fungsi Kota sebagai Pusat Perekonomian dan Kota sebagai Pusat Pemerintahan –
Apakah Indonesia harus selamanya beribukota di Jakarta? Tentu saja tidak. Kita bisa mulai merancang kota baru untuk dipersiapkan sebagai Ibu Kota yang baru.
Kota Jakarta yang sekarang merupakan evolusi dari Kota yang dulu bernama Batavia, Ibukota Hindia Belanda buatan VOC.  Kota Jakarta yang kita kenal sebagai Ibu Kota Negara bisa dibilang simbol Ibu Kota warisan penjajah. Ibu Kota yang sudah tua, dan (untuk saat ini) sudah “lelah”.
Dalam sejarahnya, Indonesia pernah beberapa kali memindahkan sementara Ibu Kota Negaranya ke beberapa kota lain seperti Yogyakarta dan Bukit Tinggi namun kembali lagi ke Jakarta. Sudah saatnya kita mengkaji, merencanakan serta merancang Ibu Kota baru untuk menjadi Ibu Kota Negara secara permanen. Istilah yang lebih tepat adalah mendirikan Ibu Kota yang baru, bukan “memindahkan”,  karena dalam hal ini Jakarta tetap akan menjadi kota Jakarta dan tetap menjadi kota megapolitan yang besar. Hanya statusnya saja yang akan menjadi lebih ringan karena hanya akan berstatus Kota Pusat Perekonomian Indonesia. Jakarta tidak ditinggalkan.
Apakah pendirian Ibu Kota yang baru akan merugikan Kota Jakarta? Tentu saja tidak.  Jakarta akan tetap menjadi pusat perekonomian, pusat hiruk pikuk Negara. Jakarta akan menjadi seperti halnya Kota New York yang merupakan pusat perekonomian Amerika Serikat.  Apakah Kota Jakarta akan diuntungkan dengan Pendirian Ibu Kota Negara di kota yang baru? Iya Jakarta akan diuntungkan. Mengapa? Karena beban Kota Jakarta akan banyak berkurang, bahkan akan lebih fokus menjadi pusat Ekonomi Indonesia.
Mari kita ambil salah satu contoh kongkrit yaitu kasus demonstrasi dan kemacetan. Dengan berpindahnya kantor Presiden, Kantor Kementerian Negara dan anggota DPR/MPR di kota yang baru, maka saat Ibu Kota yang baru sudah berdiri, nantinya intensitas demonstrasi di Kota Jakarta akan berkurang, kemacetan berkurang. Jakarta bisa lebih fokus sebagai Kota Pusat kegiatan perekonomian, karena urusan kenegaraan dan administratif pemerintah telah dipindahkan di kota yang baru.
Bagi Kota Jakarta sendiri, saat fungsi Kota Pemerintahan sudah dipisahkan, Jakarta bisa bermetamorfosis sebagai kota Pusat perekonomian yang lebih besar karena semua kebijakan kota akan lebih fokus pada bidang Ekonomi dan Bisnis. Sebagai Pusat perekonomian yang semakin besar Pendapatan Pajak Daerah akan semakin besar, pembangunan infrastruktur untuk mengatasi masalah kemacetan dan banjir musiman dapat lebih cepat terealisasi.
Membangun Kota Baru sebagai Ibu Kota Pemerintahan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun tidak sebegitu rumitnya juga, semuanya BISA. Syarat dasar yang menjadi pertimbangan perencanaan dan perancangan  sebuah kota untuk memenuhi fungsi Ibu Kota Negara adalah sebagai berikut:
  1. Memiliki Istana Negara / Istana Kepresidenan

  2. Memiliki Gedung Kantor Pusat Kementrian/Ministri/Departemen

  3. Memiliki Gedung DPR / Parlemen

  4. Memiliki Bandara Udara.
Setelah keempat dasar fungsi kota tersebut terpenuhi, Kantor Kedutaan asing dan kantor pusat perwakilan bisnis akan tumbuh dan mengikuti secara bertahap.
Ibu Kota Negara yang ideal adalah kota yang nyaman dihuni di mana jarang terjadi bencana, infrastruktur memadai, serta tertata dengan rapi, karena Ibu Kota juga harus berperan menjadi beranda rumah saat kita menerima Tamu Negara.
Di mana Ibu Kota yang baru itu? Berikut kandidat calon Ibu Kota Indonesia yang bisa kita kaji bersama :
    PALANGKARAYA
  1. Ir. Soekarno pernah merancang Ibukota baru di Kota Palangkaraya. Mengapa Palangkaraya? Saat itu Palangkaraya secara geografis tepat berada di tengah tengah Indonesia. Tapi saat Orde lama berakhir dan Bung Karno tidak lagi menjadi presiden rencana ini seakan mulai memudar. Kita tidak boleh lupa, Palangkaraya bisa dikaji lagi.
  2. MAKASAR
  3. Makasar cukup cocok menjadi Ibu Kota Negara yang baru. Kota Makasar tepat di tengah tengah jalur perlintasan Indonesia. Seorang Menteri dan anggota DPR akan memiliki jangka waktu yang seimbang jika ingin melakukan pilihan perjalanan dinas ke Indonesia bagian barat atau ke Indonesia bagian timur, Makasar tepat di tengah tengahnya.
  4. BALI
  5. Bali bisa menjadi pilihan berikutnya. Salah satu Pulau terindah di dunia ini , pada hari inipun sebenarnya sudah siap menjadi Ibu Kota Negara. Area Nusa Dua dan sekitarnya bisa dikembangkan lagi menjadi kompleks ibu Kota Negara. Presiden, Menteri dan anggota DPR bisa bekerja pada pagi hari, sore sepulang kerja bisa menikmati sunset di Pantai Kuta. Kenyamanan dan kondisi lingkungan yang harmonis pada Ibu Kota akan berdampak langsung secara positif pada output kebijakan dan keputusan yang diambil pemerintah.
  6. LOMBOK
  7. Lombok juga merupakan salah satu titik tengah Indonesia, mengapa titik tengah wilayah Negara dianggap penting? Ini karena Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia. Untuk mengatur dan menjaga seluruh cakupan daerah yang luas secara lebih efektif, terbentang dari Sabang sampai Merauke — secara geografis adalah ideal jika dilakukan kontrol dari titik tengah wilayahnya. Lombok memiliki potensi yang tidak kalah dari Bali, pulau  yang nyaman sebagai zona kerja “nahkoda nahkoda” pengambil kebijakan negeri besar ini. Jika Bali dirasa sudah cukup hiruk dan dianggap terlalu tersohor, maka kita bisa mempertimbangkan Lombok. Di Pulau Lombok masih banyak pantai dengan kondisi yang masih alami, kita bisa merancang Kota Baru di sana, lengkap dengan infrastruktur bandara dan dermaga kapalnya sehingga memudahkan koordinasi ke pelosok daerah di seluruh Indonesia.
  8. PAPUA
  9. Papua bisa dipertimbangkan menjadi kandidat Ibu Kota Indonesia  berikutnya. Papua memang terletak di gerbang timur perbatasan wilayah Indonesia. Karena letaknya geografisnya tersebut, saat ini Papua seolah olah selalu dalam kondisi dianak-tirikan oleh pemerintah pusat. Padahal Papua merupakan salah satu pulau terkaya di dunia yang memiliki cadangan bahan tambang dan mineral terbesar. Menurut data dikeluarkan Metals Economics Group Pada Tahun 2012 dan didukung data dari Australian Mining pada Agustus 2012, Grasberg Mine Papua telah mendapatkan pencapaian urutan pertama pertambangan emas terbesar di Dunia, dengan hasil tambang mencapai 1,4juta ons , hasil tambangnya melebihi tambang emas Cortez (Amerika Serikat), Yanacocha (Peru) dan Vaal River (Afrika Selatan).
Dengan status Papua menjadi Ibu Kota Negara itu sendiri, maka tidak ada alasan lagi bagi pemerintah untuk tidak memperhatikan Papua. Sekaligus pemindahan Ibu Kota Negara di sana akan menutup secara permanen alasan yang sering dikampanyekan OPM untuk memisahkan diri dari NKRI. Iya, tentu saja Papua tidak bisa tidak diperhatikan lagi, karena Ibu Kotanya di sana.
Papua adalah pulau kaya yang belum digali secara maksimal potensinya.
Jika anda memiliki rumah, bukankah alangkah baiknya meletakan brankas di kamar tidur utama di mana anda mudah menjangkaunya. Demikian seharusnya seperti itu pula analogi kita dalam menjaga Papua.
Di mana sajakah kota yang cocok?
Papua merupakan pulau besar, kita bisa memilih membangun Ibu Kota di salah satu kota kota yang saat ini sudah berkembang, seperti: Timika, Fak Fak, Manokwari, Merauke atau Sorong. Atau bahkan membangun kota baru lain dari nol. Tidak masalah karena pulaunya masih luas.
—-
Kembali ke PALANGKARAYA
Setelah kita mengkaji seluruh calon Ibu Kota Negara dan menguraikan berbagai opsi di atas, akhirnya kita harus mengakui bersama bahwa (ternyata) pilihan Bung Karno sejak setengah abad yang lalu itulah kembali menjadi pilihan ideal sebuah ibu kota Negara Indonesia. Ini merupakan ide brilian yang bahkan akan relevan hingga ratusan tahun ke depan.
Iya Palangkaraya. Mengapa Palangkaraya?
Palangkaraya terletak di tengah tengah Pulau Kalimantan, salah satu pulau terbesar di dunia  berdampingan dengan Greenland, Madagascar, dan Papua – sebuah mini continent. Pulau Kalimantan dimiliki 3 Negara: Indonesia, Malaysia dan Brunei Darusalam, strategis dan vital posisinya sebagai persimpangan regional, sangat sesuai sebagai Pusat Pemerintahan.
Kelebihan lainnya, Kalimantan adalah satu satunya Pulau di Indonesia yang tidak dilewati Ring of Fire. Tanpa mengurangi rasa hormat pada daerah lainnya, Kalimantan bebas gempa, sebuah Ibu Kota Negara harus menunjukkan image kokoh, berwibawa, menunjukkan philosophy sebagai jati diri bangsa — tidak mudah mendapatkan “gangguan alamiah”.

PHILOSOPHY PALANGKARAYA
Ada beberapa hal menarik lainnya yang membuat kita harus mendukung Palangkaraya sebagai Ibu Kota Negara. Salah satunya adalah issue Global Warming di mana es di kutub akan terus mencair yang berimbas pada permukaan air laut akan berangsur naik hingga 6000mm dalam 50tahun mendatang. Dampaknya bagi negara kepulauan seperti Indonesia sungguhlah dahsyat. Kota kota pesisir seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Makassar, Manado, Banjarmasin, Pontianak akan berkurang luasan daratannya, dan terendam.
Palangkaraya sendiri tidak terlalu terpengaruh dengan issue global tersebut karena jarak Kota Palangkaraya ke laut masih sejauh 150km.
Selain itu, ternyata Kota Palangkaraya memiliki “ikatan saudara” dengan Washington DC, kedua Kota ini sungguh identik.
Beberapa hal menarik yang membuat Palangkaraya mirip dengan Wahington DC adalah kedua kota ini sama sama dilewati Sungai Besar. Washington DC dilewati Sungai Potomac sedangkan Palangkaraya dilewati sungai Kahayan. Apa istimewanya sungai itu? Keduanya sama sama memiliki lebar ideal bagi bergeraknya transportasi air. Jarak Washington DC melalui sungai hingga bermuara ke Samudera Atlantik adalah 160km, sedangkan Palangkaraya melalui sungai Kahayan  akan bermuara di Laut jawa dengan jarak 150km.
1367740237252863480

Perencanaan ke depan
Di Washington DC sendiri, White House- Capitol House dan Pentagon secara rapi dirancang dalam satu garis segitiga yang mengelilingi Sungai Potomac.
Sebagai Ibu Kota Pemerintahan Indonesia, seluruh tata kota Palangkaraya nantinya bisa didesain dengan basic concept waterfront city yang terbelah sungai Kahayan. Gedung DPR – Istana Presiden dan Pusat Pertahanan Militer Indonesia bisa dibangun dalam zona satu garis segitiga mengelilingi Sungai Kahayan.
Sebuah Kompleks Pemerintahan seperti Istana Kepresidenan / Istana Negara Idealnya harus dekat dengan Gedung Parlemen. Kedekatan bangunan ini memiliki filosophy menggambarkan bahwa seorang Presiden akan selalu merasa dekat dengan rakyatnya.
Yang terjadi di Jakarta saat ini, misalkan kita melakukan perjalanan sederhana menggunakan mobil dari Gedung DPR menuju Istana Presiden pada jam kerja, ternyata kita harus mengalami kemacetan yang luar biasa. Maka bisa digambarkan wujud koordinasi pemerintahpun secara tidak langsung sebenarnya telah mengalami kemacetan. Keputusan vital serba lamban hingga rakyat di pelosok daerah menjerit.

Berapa lamakah waktu yang dibutuhkan untuk transisi pemindahan Ibu Kota Negara?
Pemindahan Ibu Kota Negara harus melalui proses pengkajian secara terstruktur dan perancangan yang matang, dan tentu saja harus dilakukan secara bertahap. Dari tahap pemilihan lokasi hingga pembangunan infrastruktur utama. Sementara infrastruktur-infrastruktur penunjang bisa terus berjalan saat Ibu Kota yang baru sudah resmi berdiri.
Sebenarnya metodenya cukup sederhana: Ibu Kota yang Baru dipilih - dibangun-  Siap ditinggali - baru pindah. Sama halnya saat kita berpindah rumah.
Jika benar benar direncanakan dengan matang, Perpindahan Ibu Kota Indonesia hanya akan membutuhkan waktu kurang dari 5 tahun. Dengan syarat utama : harus ada “greget” atau kemauan dari pemerintah untuk pindah.

PHILOSOPHY PERUBAHAN : IBU KOTA BARU – SEMANGAT BARU
Keuntungan bagi presiden, wakil, menteri, anggota DPR dengan hadirnya Ibu Kota Negara di kota yang baru adalah mendapatkan atmosfer positif baru untuk bekerja, tidak macet dan tidak banjir. Seluruh wilayah Indonesia bisa diatur dengan lebih baik, efektif, efisien dan merata. lingkungan kerja yang positif akan menghasilkan kebijakan pemerintahan yang positif pula. Suasana Baru akan menghasilkan output kebijakan untuk mewujudkan Indonesia Baru pula.
Jika Indonesia dianalogikan seperti tubuh manusia. Kota Jakarta yang sekarang, memiliki peran (Pusat Pemerintahan) – peran sebagai otak sekaligus (Pusat Ekonomi dan Bisnis) - peran sebagai jantung.
Jika otak dan jantung berada di satu tempat yang sama tentu akan fatal akibatnya. Contoh paling sederhana adalah saat Jakarta sedang dilanda bencana, maka imbasnya langsung menyerang Jantung dan Otak secara bersamaan. Kedua fungsi organ sakit secara bersamaan dan seluruh tubuh kena imbasnya. Bandingkan jika ibukota dirancang di kota lain yang nyaman dan minim bencana, saat Jantung sakit, Otak masih bekerja dengan baik sehingga anggota tubuh yang lain masih bisa bergerak dan bekerja,  dari Sabang sampai Merauke masih bisa diurus dan tidak terlantar.

Mengapa Ibu Kota Negara harus di luar Pulau Jawa?
Saya Pribadi bukan orang kalimantan, saya lahir dan dibesarkan di Jawa.
Pada tahun 2025, 60% penduduk dunia akan tinggal di kota. Sebagai warga Negara Indonesia, saya pribadi tidak rela jika 15 tahun ke depan Kota Kota besar berpencakar langit hanya ada di Pulau Jawa, kota metropolis berbalut beton hanya menghiasi Pulau Jawa, daerah lain hanya dijadikan sebagai “sapi perahan” yang hasilnya lagi lagi hanya untuk kepentingan pembangunan di Jawa.
Kita Bangsa Besar, Kita harus maju bersama.
Indonesia yang kita lihat bersama hari ini hanya mencurahkan perhatian sepenuhnya ke Pulau Jawa. Bisa dianalogikan seperti seseorang yang aktif ke Gym, tapi sepanjang waktunya hanya dihabiskan untuk melatih otot lengannya saja, tanpa melatih otot otot lainnya. Bagaimanakah hasilnya? Iya Lengannya akan bagus,  kekar - namun jika melihat tubuhnya secara keseluruhan, terlihat tidak proposional dan tidak sedap dipandang mata.
Pulau Jawa adalah “anak sulung” yang sudah besar, sudah bisa mandiri dan tidak memerlukan pengasuhan dan pengawasan dengan porsi yang terlalu besar. Pemerintah pusat sebagai orang tua harusnya sudah mulai lebih fokus ke “anak anak” yang lainnya, agar satu keluarga kita Indonesia bisa lebih cepat maju bersama. Dengan hadirnya Ibu Kota Negara di daerah lain, diharapkan Pemerintah menghasilkan kebijakan dengan sudut pandang dari perspektif yang lebih merata, lebih membela daerah, bukan hanya Jawa lagi dan Jawa lagi. Dengan hadirnya Ibu Kota baru Indonesia di luar Pulau Jawa, secara langsung akan menstimulasi pertumbuhan nadi perekonomian baru di daerah, merata dari Sabang sampai Merauke.

Dampak Bahaya Makan Gorengan bagi Kesehatan

Gorengan adalah makanan favorit semua orang di Indonesia. Gorengan bisa di santap kapan saja dan di mana saja. Rasanya yang gurih mudah didapat membuat gorengan semakin diminati selain harganya yang sangat murah. Akan tetapi, walaupun memiliki rasa yang enak dan gurih, perlu diperhatikan juga bahwa makanan ini akan menimbulkan bahaya bagi kesehatan apalagi jika terlalu sering mengkonsumsinya. Bukan sesuatu yang baru memang, kenyataan bahwa gorengan yang banyak mengandung minyak dan dikonsumsi secara terus menerus akan menjadi sumber kemunculan penyakit seperti kolesterol, jantung, tekanan darah tinggi, kegemukan, dan masih banyak lagi.

Tidak ada salahnya mengkonsumsi makanan favorit tapi harus di kontrol dan di atur pola makannya, tidak terlalu berlebihan. Gorengan terbukti mengandung lemak jenuh yang sangat tinggi dan hal inilah yang menjadi sumber penyakit jika dikonsumsi dalam jumlah banyak. Apalagi gorengan di beli dari pedagang langganan di pinggir jalan, dampak bahaya makan gorengan bagi kesehatan akan terlihat dari kebersihan yang belum tentu seratus persen dipercaya. Selain itu, plastik untuk membungkus gorengan belum tentu steril apalagi plastik yang digunakan merupakan plastik daur ulang.

Membeli gorengan adalah yang paling praktis karena tidak perlu repot di rumah, justru inilah yang menjadi sumber yang mengancam kesehatan para pecinta gorengan. Tidak hanya mengenai kebersihan tempat dan gorengan itu sendiri, melainkan polusi lingkungan tempat berjualan yang biasanya berada dipinggir jalan membuat gorengan sangat minim kesehatannya. Dampak bahaya makan gorengan bagi kesehatan seseorang sangatlah jelas dan nyata. Baik dari segi kebersihan, dari segi kandungan dari gorengan juga mengancam kesehatan konsumennya. Secara jelas, berikut ini sejumlah dampak bahaya makan gorengan bagi kehatan yang harus diperhatikan.

Dampak Bahaya Makan Gorengan

Terlalu banyak mengkonsumsi gorengan akan rentan mengalami gangguan pencernaan. Hal ini karena gorengan mengandung lemak yang tinggi. Bagi yang memiliki sistem pencernaan yang sensitif makan gorengan akan menjadi momok terjadinya masalah pencernaan.

Gorengan yang mudah terkontaminasi bakteri yang berbahaya apalagi gorengan yang dijual dipinggir jalan yang mana sangat rentan terkena debu, asap dan polusi jalanan lainnya. Penggunaan minyak goreng yang berkali-kali atau penggunaan minyak goreng bekas dalam proses penggorengan akan membuat gorengan mengandung radikal bebas epioksida yang membahayakan kesehatan tubuh.

Lemak trans yang terdapat pada gorengan akan memiliki dampak buruk seperti memicu kolesterol jahat tinggi, terserang jantung, kanker, dan penyakit lainnya.

Bisa menimbulkan rasa nyeri pada dada yang disebabkan adanya pergerakan asam lambung menuju esofagus. Hal ini disebabkan oleh terlalu sering menkonsumsi gorengan dalam jumlah banyak. Jadi, kurangi makan gorengan agar terhindar dari nyeri dada atau bisa menggantinya dengan makanan yang direbus atau dikukus.

Dalam jangka panjang, dampak bahaya makan gorengan adalah terserang kanker usus besar. Kanker tidak hanya karena pola makan yang tidak baik tapi juga kebiasaan buruk dalam mengonsumsi makanan juga menjadi pemicunya. Dalam membuat atau menggoreng biasanya menggunakan minyak yang telah berulang kali digunakan. Penggunaan yang terlalu sering dan berkali-kali juga akan meningkatkan pembentukan asam empedu yang ada dalam usus yang mengakibatkan usus mengalami iritasi.Selain rentan terserang kanker usus besar, dampak bahaya makan gorengan adalah terjadinya penyakit tukak lambung. Penyakit ini membuat luka di sekitar lambung ataupun usus yang akan menghasilkan rasa nyeri dalam sistem pencernaan dan hasil akhirnya sistem pencernaan bermasalah.
  
Gorengan juga menjadi berbahaya ditambah dengan tempat untuk membungkus gorengan tersebut yang menggunakan kertas bekas atau plastik daur ulang yang memang nyata bahayanya. Dampak negatifnya akan berdampak pada kerusakan otak, syaraf, reproduksi, dan bagian organ dalam lainnya.  Selain itu, mari kita ulas secara mendalam mengenai fakta gorengan.

Fakta Seputar Gorengan



  • Bahaya Akrilamida
    Berdasarkan penelitian yang didanai oleh Lembaga di Swedia menunjukan bahwa makanan yang banyak mengandung karbohidrat, seperti kentang, singkong dan ubi yang di proses dengan digoreng terbukti dapat merangsang pembentukan senyawa karsinogenik ( pemicu kanker ) bernama akrilamida. Sementara bahan pangan yang direbus atau dikukus ternyata hanya mengandung sedikit senyawa akrilamida, sehingga tak berbahaya bagi kesehatan. Akrilamida merupakan senyawa kimia, yang umum dipakai di laboratorium. Selain itu pada umumnya diluar negeri Akrilamida dipakai untuk mengumpulkan kotoran dalam proses permurnian air minum pada PAM.

    Akrilamida berpotensi menimbulkan tumor, merusak DNA atau materi genetik juga merusak sistem reproduksi, mengganggu tingkat kesuburan serta dapat mengakibatkan keguguran. Jadi untuk ibu hamil yang terkontaminasi akrilamida banyinya berpotensi lahir cacat.
  • Bahaya Minyak Jelantah
    Kualitas minyak jelantah menurun dari minyak goreng baru. Minyak jelantah mengeluarkan kandungan polimer yang dapat terserap dalam makanan berupa asam lemak trans. Dan dalam minyak jelantah terdapat zat radikal bebas, seperti peroksida dan epioksida yang mutagen dan karsinogen sehingga berisiko terhadap kesehatan manusia. Misalnya saja, gangguan peroksida pada minyak jelantah mengakibatkan pemansana suhu tinggi hingga menggangu kesehatam, terutama yang berhubungan dengan metabolisme kolesterol.
  • Bahaya Gorengan di Campur Dengan Plastik
    Banyak oknum-oknum tidak bertanggungjawab melakukan kecurangan dengan menggunakan plastik yang dimasukan pada minyak panas yang digunakan untuk menggoreng makanan agar gorengan terlihat lebih menarik dan lebih tahan lama. Desas-desus soal adanya jajanan gorengan berplastik mulai banyak diketahui oleh orang dari sejak lama. Temuan lapangan membuktikan jajanan gorengan berplastik ternyata bukan sekedar desas-desus. tak sedikit penjual gorengan yang menggoreng pisang, singkong, tempe atau pun bakwan tidak saja dengan minyak goreng, tapi juga kantung plastik, sedotan atau bahkan dirijen plastik. Bahan-bahan plastik ini digoreng terlebih dahulu dengan minyak panas hingga meleleh, baru kemudian produk gorengan dimasukkan. Hasilnya… gorengan menjadi renyah lebih lama dan sangat gurih. Pedagang yang menggoreng dengan resep ini mengaku mendapat konsumen lebih banyak sejak menerapkan teknik ini.
  • Bahaya Kertas Bekas Pembungkus Makanan
    Kertas bekas seperti koran, majalan atau ketas yang sudah tercampur tinta sangat berbahaya bagi tubuh manusia karena di dalam tinta terdapat timbal yang bersifat racun. ” Bila terkena panas atau minyak gorengan, tinta dapat larut dalam makanan” Ungkap M Ali Bata Harahap.
  • Bahaya Kantong Plastik Kresek Hitam Pembungkus Gorengan
    Kantong plastik kresek hitam adalah hasil dari daur ulang plastik- plastik bekas. Selain karena tidak hygienis ( kita tidak pernah tahu sebelumnya plastik- plastik bekas itu digunakan untuk membungkus apa ) kantong plastik kresek hitam bila digunakan untuk mewadahi langsung makanan akan melepaskan bahan-bahan berbahaya kedalam makanan, yang akhirnya dapat menimbulkan kanker dan kegagalan ginjal.


Nah berarti bukan pada bahan bakunya yang membuat tidak sehat, tapi disebabkan pada prosesnya, caranya, bahan menggorengnya seperti minyak, pembungkusnya dan ulah penjual itu sendiri yang tidak bertanggung jawab dengan menambahkan plastik untuk menggoreng gorengan. Lalu apa aja efek yang ditimbulkan jika kita terlalu banyak dan sering mengkonsumsi gorengan ?
Keajaiban Dunia yang Hanya Ada di Indonesia

Keajaiban Dunia yang Hanya Ada di Indonesia

Kalau warga dunia mengenal "Seven Wonders of the World" atau 7 keajaiban dunia, ternyata di Indonesia ada 10 tempat "ajaib" yang cuma ada di Indonesia saja. Kita sebagai penduduk Indonesia harus bangga karena kekayaan sumber daya alam yang kita punya. Jika sebagian besar dunia hanya mengenal Indonesia dari Bali nya saja, atau mungkin Borobudurnya saja, maka kita sebagai penduduk asli harus mengetahui dimana saja tempat-tempat menarik yang bisa menjadi tujuan wisata lainnya. Semoga setelahnya, seluruh wilayah Indonesia dapat dikenal di seluruh penjuru dunia. 

1. Pulau Komodo

Pulau Komodo terletak di antara dua selat di NTT & NTB.  Pulau tersebut dikenal sebagai habitat asli binatang komodo (Varanus Komodoensis) . Kalian tidak akan menemukan sebuah wilayah lain di bagian bumi manapun yang terdapat Komodonya, semua komodo yang kalian lihat didatangkan langsung dari Pulau Komodo. Wow! Selain itu, Pulau Komodo juga terkenal dengan wisata bawah laut yang sangat mengagumkan. Para penyelam menyebut Pulau Komodo sebagai salah satu tempat menyelam terbaik di dunia.

2. Danau Tiga Warna Kelimutu

Semua orang akan berdecak kagum ketika mengunjungi danau di Flores, NTT ini. Danau Kelimutu memiliki keunikan yaitu ketiga warna airnya yang berbeda, merah, biru dan hijau. Danau Kelimutu adalah satu-satunya danau di dunia yang airnya dapat berubah warna. Dari merah, ke hijau, ke merah ati. Penduduk asli Flores meyakini ada kekuatan magis di setiap danau. Yang jelas, hanya di Indonesia kalian bisa menemukan danau dengan tiga warna berbeda seperti Kelimutu ini.

3. Bromo

Taman Nasional Bromo adalah kawasan gunung berapi terbesar yang terdapat di Jawa Timur. Puncak tertinggi dimiliki oleh Gunung Semeru dengan ketinggian 3,676 meter dari permukaan laut. Bayangkan indahnya pemandangan yang akan kalian dapatkan ketika kalian menyaksikan matahari terbit dari atas puncaknya. Taman Nasional Bromo memiliki keunikan yang tidak dimiliki kawasan gunung berapi lainnya di dunia yaitu fenomena kawah di dalam kawah. 

4. Krakatau

Letusan besar dari Gunung Krakatau di tahun 1883 dirasakan si seluruh dunia. Ledakan tersebut juga menyebabkan perubahan ikim dan pembentukan gugusan pulau baru yaitu Rakata, Panjang, Sertu dan Anak Krakatau. Krakatau terletak di Selat Sunda, sebuah selat di antara Pulau Jawa & Sumatera. Kratakau dinyatakan sebagai Cagar Alam sejak tahun 1919 yang kemudian bergabung menjadi bagaian dari Taman Nasional Ujung Kulon. Daerah sekitar Krakatau memiliki pemandangan yang sangat menakjubkan, dengan 50 spesimen terumbu karang yang masih belum terjamah menambah keindahan Krakatau. 

5. Danau Toba

Hamparan air biru yang jernih menyita perhatian siapa saja yang mengunjungi Danau Toba. Danau Toba ini dulunya adalah sebuah gunung berapi. Letusan dasyat yang terjadi menyebabkan kawah terbentuk dan berpengaruh terhadap perubahan iklim di dunia. Danau Toba lebih mirip dengan laut melihat luasnya yaitu 1,145 kilometer persegi. Hal ini menjadikan Toba sebagai danau terbesar di Asia Tenggara dan kedua terbesar di dunia setelah Danau Victoria di Afrika.

Sejarah Singkat Mengenai Wayang Kulit Di Idonesia

Keberadaan wayang, baik itu wayang kulit, wayang orang, maupun wayang golek dan juga beragam wayang (setidaknya ada lebih dari 40 jenis wayang) di tanah air indonesia ini telah menjadi khasanah tersendiri. Wayang yang pada tanggal 7 November 2003, resmi diakui sebagai warisan budaya Indonesia ini menjadi saksi tinggina kebudayaan dimasa lampau.

Darimana awal mula wayang, kaitannya dengan kisah mahabarata dan ramayana yang notabene berasal dari tanah india? Berikut sejarah singkat tentang sejarah singkat perkembangan wayang di Indonesia.

Mengenal lebih lanjut tentang wayang

Wayang, merupakan salah satu bentuk teater tradisional yang paling tua. Pada masa pemerintahan Raja Balitung, telah ada petunjuk adanya pertunjukan wayang, yaitu yang terdapat pada prasasti Balitung dengan tahun 907 Masehi, yang mewartakan bahwa pada saat itu telah dikenal adanya pertunjukan wayang.

wayang-cina-siam-kamboja

Prasasti berupa lempengan tembaga dari Jawa Tengah; Royal Tropical Institute, Amsterdam, contoh prasasti ini dapat dilihat dalam lampiran buku Claire Holt Art in Indonesia: Continuities and Changes,1967 terjemahan Prof.Dr.Soedarsono(MSPI-2000-hal 431).

Tertulis sebagai berikut:

Dikeluarkan atas nama Raja Belitung teks ini mengenai desa Sangsang, yang ditandai sebagai sebuah tanah perdikan, yang pelaksanaannya ditujukan kepada dewa dari serambi di Dalinan. Lagi setelah menghias diri dengan cat serta bunga-bunga para peserta duduk di dalam tenda perayaan menghadap Sang Hyang Kudur. “Untuk keselamatan bangunan suci serta rakyat” pertunjukan (tontonan) disakilan. Sang Tangkil Hyang sang (mamidu), si Nalu melagukan (macarita) Bhima Kumara, serta menari (mangigal) sebagai Kicaka; si Jaluk melagukan Ramayana; si Mungmuk berakting (mamirus) serta melawak (mebanol), si Galigi mempertunjukkan Wayang (mawayang) bagi para Dewa, melagukan Bhimaya Kumara.

Pentingnya teks ini terletak pada indikasi yang jelas bahwa pada awal abad ke-10, episode-episode dari Mahabharata dan Ramayana dilagukan dalam peristiwa-peristiwa ritual. Bhimaya Kumara mungkin sebuah cerita yang berhubungan dengan Bima boleh jadi telah dipertunjukan sebagai sebuah teater bayangan (sekarang: wayang purwa). Dari mana asal-usul wayang, sampai saat ini masih dipersoalkan, karena kurangnya bukti-bukti yang mendukungnya. Ada yang meyakini bahwa wayang asli kebudayaan Jawa dengan mengatakan karena istilah-istilah yang digunakan dalam pewayangan banyak istilah bahasa Jawa.

Dr.G.A.J.Hazeu, dalam detertasinya Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (Th 1897 di Leiden, Negeri Belanda) berkeyakinan bahwa pertunjukan wayang berasal dari kesenian asli Jawa. Hal ini dapat dilihat dari istilah-istilah yang digunakan banyak menggunakan bahasa Jawa misalnya, kelir, blencong, cempala, kepyak, wayang. Pada susunan rumah tradisional di Jawa, kita biasanya akan menemukan bagian-bagian ruangan: emper, pendhapa, omah mburi, gandhok senthong dan ruangan untuk pertujukan ringgit (pringgitan), dalam bahasa Jawa ringgit artinya wayang. Bagi orang Jawa dalam membangun rumahpun menyediakan tempat untuk pergelaran wayang. Dalam buku Over de Oorsprong van het Java-ansche Tooneel - Dr.W Rassers mengatakan bahwa, pertunjukan wayang di Jawa bukanlah ciptaan asli orang Jawa. Pertunjukan wayang di Jawa, merupakan tiruan dari apa yang sudah ada di India. Di India pun sudah ada pertunjukan bayang-bayang mirip dengan pertunjukan wayang di Jawa.

Dr.N.J. Krom sama pendapatnya dengan Dr. W. Rassers, yang mengatakan pertunjukan wayang di Jawa sama dengan apa yang ada di India Barat, oleh karena itu ia menduga bahwa wayang merupakan ciptaan Hindu dan Jawa. Ada pula peneliti dan penulis buku lainnya yang mengatakan bahwa wayang berasal dari India, bahkan ada pula yang mengatakan dari Cina. Dalam buku Chineesche Brauche und Spiele in Europa - Prof G. Schlegel menulis, bahwa dalam kebudayaan Cina kuno terdapat pergelaran semacam wayang.

Pada pemerintahan Kaizar Wu Ti, sekitar tahun 140 sebelum Masehi, ada pertunjukan bayang-bayang semacam wayang. Kemudian pertunjukan ini menyebar ke India, baru kemudian dari India dibawa ke Indonesia. Untuk memperkuat hal ini, dalam majalah Koloniale Studien, seorang penulis mengemukakan adanya persamaan kata antara bahasa Cina Wa-yaah (Hokian), Wo-yong (Kanton), Woying (Mandarin), artinya pertunjukan bayang-bayang, yang sama dengan wayang dalam bahasa Jawa.

Meskipun di Indonesia orang sering mengatakan bahwa wayang asli berasal dari Jawa/Indonesia, namun harus dijelaskan apa yang asli materi wayang atau wujud wayang dan bagaimana dengan cerita wayang. Pertanyaannya, mengapa pertunjukan wayang kulit, umumnya selalu mengambil cerita dari epos Ramayana dan Mahabharata? Dalam papernya Attempt at a historical outline of the shadow theatre Jacques Brunet, (Kuala Lumpur, 27-30 Agustus 1969), mengatakan, sulit untuk menyanggah atau menolak anggapan bahwa teater wayang yang terdapat di Asia Tenggara berasal dari India terutama tentang sumber cerita. Paper tersebut di atas mencoba untuk menjelaskan bahwa wayang mempunyai banyak kesamaan terdapat di daerah Asia terutama Asia Tenggara dengan diikat oleh cerita-cerita yang sama yang bersumber dari Ramayana dan Mahabharata dari India. Sejarah penyebaran wayang dari India ke Barat sampai ke Timur Tengah dan ke timur umumnya sampai ke Asia Tenggara.

Di Timur Tengah, disebut Karagheuz, di Thailand disebut Nang Yai & Nang Talun, di Cambodia disebut Nang Sbek & Nang Koloun. Dari Thailand ke Malaysia disebut Wayang Siam. Sedangkan yang langsung dari India ke Indonesia disebut Wayang Kulit Purwa. Dari Indonesia ke Malaysia disebut Wayang Jawa. Di Malaysia ada 2 jenis nama wayang, yaitu Wayang Jawa (berasal dari Jawa) dan Wayang Siam berasal dari Thailand.

Abad ke-4 orang-orang Hindu datang ke Indonesia, terutama para pedagangnya. Pada kesempatan tersebut orang-orang Hindu membawa ajarannya dengan Kitab Weda dan epos cerita maha besar India yaitu Mahabharata dan Ramayana dalam bahasa Sanskrit. Abad ke-9, bermunculan cerita dengan bahasa Jawa kuno dalam bentuk kakawin yang bersumber dari cerita Mahabharata atau Ramayana, yang telah diadaptasi kedalam cerita yang berbentuk kakawin tersebut, misalnya cerita-cerita seperti: Arjunawiwaha karangan Empu Kanwa, Bharatayuda karangan Empu Sedah dan Empu Panuluh, Kresnayana karangan Empu Triguna, Gatotkaca Sraya karangan Empu Panuluh dan lain-lainnya. Pada jamannya, semua cerita tersebut bersumber dari cerita Mahabharata, yang kemudian diadaptasi sesuai dengan sejarah pada jamannya dan juga disesuaikan dengan dongeng serta legenda dan cerita rakyat setempat. Dalam mengenal wayang, kita dapat mendekatinya dari segi sastra, karena cerita yang dihidangkan dalam wayang terutama wayang kulit umumnya selalu diambil dari epos Mahabharata atau Ramayana. Kedua cerita tersebut, apabila kita telusuri sumber ceritanya berasal dari India. Mahabharata bersumber dari karangan Viyasa, sedangkan Epos Ramayana karangan Valmiki.
(Lihat: buku Traditional Drama And Music of Southeast Asia - Edited by M.Taib Osman, Terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur. Th. 1974)



Hal ini diperkuat fakta bahwa cerita wayang yang terdapat di Asia terutama di Asia Tenggara yang umumnya menggunakan sumber cerita Ramayana dan Mahabharata dari India. Cerita-cerita yang biasa disajikan dalam wayang, sebenarnya merupakan adaptasi dari epos Ramayana dan Mahabharata yang disesuaikan dengan cerita rakyat atau dongeng setempat. Dalam sejarahnya pertunjukan wayang kulit selalu dikaitkan dengan suatu upacara, misalnya untuk keperluan upacara khitanan, bersih desa, menyingkirkan malapetaka dan bahaya. Hal tersebut sangat erat dengan kebiasaan dan adat-istiadat setempat.

Dalam menelusuri sejak kapan ada pertunjukan wayang di Jawa, dapat kita temukan berbagai prasasti pada jaman raja-raja Jawa, antara lain pada masa Raja Balitung. Namun tidak jelas apakah pertunjukan wayang tersebut seperti yang kita saksikan sekarang. Pada masa pemerintahan Raja Balitung, telah ada petunjuk adanya pertunjukan wayang. Hal ini juga ditemukan dalam sebuah kakawin Arjunawiwaha karya Empu Kanwa, pada jaman Raja Airlangga dalam abad ke-11. Oleh karenanya pertunjukan wayang dianggap kesenian tradisi yang cukup tua. Sedangkan bentuk wayang pada pertunjukan di jaman itu belum jelas tergambar bagaimana bentuknya. Pertunjukan teater tradisional pada umumnya digunakan untuk pendukung sarana upacara baik keagamaan ataupun adat-istiadat, tetapi pertunjukan wayang kulit dapat langsung menjadi ajang keperluan upacara tersebut. Ketika kita menonton wayang, kita langsung dapat menerka pertunjukan wayang tersebut untuk keperluan apa. Hal ini dapat dilihat langsung pada cerita yang dimainkan, apakah untuk keperluan menyambut panen atau untuk ngruwat dan pertunjukan itu sendiri merupakan suatu upacara.


Source : Buku Pedalangan untuk SMK, Penerbit Departemen Pendidikan Nasional
5 Pahlawan Yang Paling Perjasa Di Indonesia

5 Pahlawan Yang Paling Perjasa Di Indonesia

1. Ir. Soekarno

 Ir. Soekarno yang bernama lahir Koesno Sosrodiharjo ini lahir pada 6 Juni 1901 di Blitar dari pasangan Raden Soekemi Sosrodiharjo dan Ida Ayu Nyoman Rai, diberi nama kecil, Koesno. Ir. Soekarno , 44 tahun kemudian, menguak fajar kemerdekaan Indonesia setelah lebih dari tiga setengah abad ditindas oleh penjajah-penjajah asing. Soekarno hidup jauh dari orang tuanya di Blitar sejak duduk di bangku sekolah rakyat, indekos di Surabaya sampai tamat HBS (Hoogere Burger School). Ia tinggal di rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Jiwa nasionalismenya membara lantaran sering menguping diskusi-diskusi politik di rumah induk semangnya yang kemudian menjadi ayah mertuanya dengan menikahi Siti Oetari (1921).Soekarno pindah ke Bandung, melanjutkan pendidikan tinggi di THS (Technische Hooge-School), Sekolah Teknik Tinggi yang kemudian hari menjadi ITB, meraih gelar insinyur, 25 Mei 1926. Semasa kuliah di Bandung, Soekarno, menemukan jodoh yang lain, menikah dengan Inggit Ganarsih (1923).Soekarno muda, lebih akrab dipanggil Bung Karno mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia), 4 Juni 1927. Tujuannya, mendirikan negara Indonesia Merdeka. Akibatnya, Bung Karno ditangkap, diadili dan dijatuhi hukuman penjara oleh pemerintah Hindia Belanda. Ia dijeboloskan ke penjara Sukamiskin, Bandung, 29 Desember 1949. Di dalam pidato pembelaannya yang berjudul, Indonesia Menggugat, Bung Karno berapi-api menelanjangi kebobrokan penjajah Belanda. Bebas tahun 1931, Bung Karno kemudian memimpin Partindo. Tahun 1933, Belanda menangkapnya kembali, dibuang ke Ende, Flores. Dari Ende, dibuang ke Bengkulu selama empat tahun. Di sanalah ia menikahi Fatwamati (1943) yang memberinya lima orang anak; Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rahmawati, Sukmawati dan Guruh Soekarnoputri.Soekarno adalah seorang cendekiawan yang meninggalkan ratusan karya tulis dan beberapa naskah drama yang mungkin hanya pernah dipentaskan di Ende, Flores. Kumpulan tulisannya sudah diterbitkan dengan judul Dibawah Bendera Revolusi, dua jilid. Dari buku setebal kira-kira 630 halaman tersebut, tulisan pertamanya (1926), berjudul, Nasionalisme, Islamisme, dan Marxism, bagian paling menarik untuk memahami gelora muda Bung Karno.Tahun 1942, tentara pendudukan Belanda di Indonesia menyerah pada Jepang. Penindasan yang dilakukan tentara pendudukan selama tiga tahun jauh lebih kejam. Di balik itu, Jepang sendiri sudah mengimingi kemerdekaan bagi Indonesia. Penyerahan diri Jepang setelah dua kota utamanya, Nagasaki dan Hiroshima, dibom atom oleh tentara Sekutu, tanggal 6 Agustus 1945, membuka cakrawala baru bagi para pejuang Indonesia. Mereka, tidak perlu menunggu, tetapi merebut kemerdekaan dari Jepang.Setelah persiapan yang cukup panjang, dipimpin oleh Ir. Soekarno dan Drs Muhammad Hatta, mereka memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, tanggal 17 Agustus 1945, di Jalan Pegangsaan Timur No. 52 (sekarang Jln. Proklamasi), Jakarta.

    2.  Dr. Moh. Hatta

 Hatta lahir dari keluarga ulama Minangkabau, Sumatra Barat. Ia menempuh pendidikan dasar di Sekolah Melayu, Bukittinggi, dan kemudian pada tahun 1913-1916 melanjutkan studinya ke Europeesche Lagere School (ELS) di Padang. Saat usia 13 tahun, sebenarnya beliau telah lulus ujian masuk ke HBS (setingkat SMA) di Batavia (kini Jakarta), namun ibunya menginginkan Hatta agar tetap di Padang dahulu, mengingat usianya yang masih muda. Akhirnya Bung Hatta melanjutkan studi ke MULO di Padang, baru kemudian pada tahun 1919 beliau pergi ke Batavia untuk studi di HBS. Beliau menyelesaikan studinya dengan hasil sangat baik, dan pada tahun 1921, Bung Hatta pergi ke Rotterdam, Belanda untuk belajar ilmu perdagangan/bisnis di Nederland Handelshogeschool (bahasa inggris: Rotterdam School of Commerce, kini menjadi Erasmus Universiteit). Di Belanda, ia kemudian tinggal selama 11 tahun.Saat masih di sekolah menengah di Padang, Bung Hatta telah aktif di organisasi, antara lain sebagai bendahara pada organisasi Jong Sumatranen Bond cabang Padang.Pada tangal 27 November 1956, Bung Hatta memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Hukum dari Universitas Gadjah Mada di Yoyakarta. Pidato pengukuhannya berjudul “Lampau dan Datang”.Saat berusia 15 tahun, Hatta merintis karir sebagai aktivis organisasi, sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond Cabang Padang. Kesadaran politik Hatta makin berkembang karena kebiasaannya menghadiri ceramah-ceramah atau pertemuan-pertemuan politik. Salah seorang tokoh politik yang menjadi idola Hatta ketika itu ialah Abdul Moeis. Pada usia 17 tahun, Hatta lulus dari sekolah tingkat menengah (MULO). Lantas berangkat ke Batavia untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School. Di Batavia, ia juga aktif di Jong Sumatranen Bond Pusat, juga sebagai Bendahara.Hatta mulai menetap di Belanda semenjak September 1921. Ia segera bergabung dalam Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging). Saat itu, telah tersedia iklim pergerakan di Indische Vereeniging. Sebelumnya, Indische Vereeniging yang berdiri pada 1908 tak lebih dari ajang pertemuan pelajar asal tanah air. Atmosfer pergerakan mulai mewarnai Indische Vereeniging semenjak tibanya tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo) di Belanda pada 1913 sebagai eksterniran akibat kritik mereka lewat tulisan di koran De Express. Saat berusia 15 tahun, Hatta merintis karir sebagai aktivis organisasi, sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond (JSB) Cabang Padang. Di kota ini Hatta mulai menimbun pengetahuan perihal perkembangan masyarakat dan politik, salah satunya lewat membaca berbagai koran, bukan saja koran terbitan Padang tetapi juga Batavia. Lewat itulah Hatta mengenal pemikiran Tjokroaminoto dalam surat kabar Utusan Hindia, dan Agus Salim dalam Neratja. Kesadaran politik Hatta makin berkembang karena kebiasaannya menghadiri ceramah-ceramah atau pertemuan-pertemuan politik. Salah seorang tokoh politik yang menjadi idola Hatta ketika itu ialah Abdul Moeis. “Aku kagum melihat cara Abdul Moeis berpidato, aku asyik mendengarkan suaranya yang merdu setengah parau, terpesona oleh ayun katanya. Sampai saat itu aku belum pernah mendengarkan pidato yang begitu hebat menarik perhatian dan membakar semangat,” aku Hatta dalam Memoir-nya. Itulah Abdul Moeis: pengarang roman Salah Asuhan; aktivis partai Sarekat Islam; anggota Volksraad; dan pegiat dalam majalah Hindia Sarekat, koran Kaoem Moeda, Neratja, Hindia Baroe, serta Utusan Melayu dan Peroebahan. Pada usia 17 tahun, Hatta lulus dari sekolah tingkat menengah (MULO). Lantas ia bertolak ke Batavia untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School. Di sini, Hatta mulai aktif menulis. Karangannya dimuat dalam majalah Jong Sumatera, “Namaku Hindania!” begitulah judulnya. Berkisah perihal janda cantik dan kaya yang terbujuk kawin lagi. Setelah ditinggal mati suaminya, Brahmana dari Hindustan, datanglah musafir dari Barat bernama Wolandia, yang kemudian meminangnya. “Tapi Wolandia terlalu miskin sehingga lebih mencintai hartaku daripada diriku dan menyia-nyiakan anak-anakku,” rutuk Hatta lewat Hindania. Pemuda Hatta makin tajam pemikirannya karena diasah dengan beragam bacaan, pengalaman sebagai Bendahara JSB Pusat, perbincangan dengan tokoh-tokoh pergerakan asal Minangkabau yang mukim di Batavia, serta diskusi dengan temannya sesama anggota JSB: Bahder Djohan. Saban Sabtu, ia dan Bahder Djohan punya kebiasaan keliling kota. Selama berkeliling kota, mereka bertukar pikiran tentang berbagai hal mengenai tanah air. Pokok soal yang kerap pula mereka perbincangkan ialah perihal memajukan bahasa Melayu. Untuk itu, menurut Bahder Djohan perlu diadakan suatu majalah. Majalah dalam rencana Bahder Djohan itupun sudah ia beri nama Malaya. Antara mereka berdua sempat ada pembagian pekerjaan. Bahder Djohan akan mengutamakan perhatiannya pada persiapan redaksi majalah, sedangkan Hatta pada soal organisasi dan pembiayaan penerbitan. Namun, “Karena berbagai hal cita-cita kami itu tak dapat diteruskan,” kenang Hatta lagi dalam Memoir-nya. Selama menjabat Bendahara JSB Pusat, Hatta menjalin kerjasama dengan percetakan surat kabar Neratja. Hubungan itu terus berlanjut meski Hatta berada di Rotterdam, ia dipercaya sebagai koresponden. Suatu ketika pada medio tahun 1922, terjadi peristiwa yang mengemparkan Eropa, Turki yang dipandang sebagai kerajaan yang sedang runtuh (the sick man of Europe) memukul mundur tentara Yunani yang dijagokan oleh Inggris. Rentetan peristiwa itu Hatta pantau lalu ia tulis menjadi serial tulisan untuk Neratja di Batavia. Serial tulisan Hatta itu menyedot perhatian khalayak pembaca, bahkan banyak surat kabar di tanah air yang mengutip tulisan-tulisan Hatta. Hatta mulai menetap di Belanda semenjak September 1921. Ia segera bergabung dalam Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging). Saat itu, telah tersedia iklim pergerakan di Indische Vereeniging. Sebelumnya, Indische Vereeniging yang berdiri pada 1908 tak lebih dari ajang pertemuan pelajar asal tanah air. Atmosfer pergerakan mulai mewarnai Indische Vereeniging semenjak tibanya tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo) di Belanda pada 1913 sebagai eksterniran akibat kritik mereka lewat tulisan di koran De Expres. Kondisi itu tercipta, tak lepas karena Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara) menginisiasi penerbitan majalah Hindia Poetra oleh Indische Vereeniging mulai 1916. Hindia Poetra bersemboyan “Ma’moerlah Tanah Hindia! Kekallah Anak-Rakjatnya!” berisi informasi bagi para pelajar asal tanah air perihal kondisi di Nusantara, tak ketinggalan pula tersisip kritik terhadap sikap kolonial Belanda. Di Indische Vereeniging, pergerakan putra Minangkabau ini tak lagi tersekat oleh ikatan kedaerahan. Sebab Indische Vereeniging berisi aktivis dari beragam latar belakang asal daerah. Lagipula, nama Indische –meski masih bermasalah– sudah mencerminkan kesatuan wilayah, yakni gugusan kepulauan di Nusantara yang secara politis diikat oleh sistem kolonialisme belanda. Dari sanalah mereka semua berasal. Hatta mengawali karir pergerakannya di Indische Vereeniging pada 1922, lagi-lagi, sebagai Bendahara. Penunjukkan itu berlangsung pada 19 Februari 1922, ketika terjadi pergantian pengurus Indische Vereeniging. Ketua lama dr. Soetomo diganti oleh Hermen Kartawisastra. Momentum suksesi kala itu punya arti penting bagi mereka di masa mendatang, sebab ketika itulah mereka memutuskan untuk mengganti nama Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging dan kelanjutannya mengganti nama Nederland Indie menjadi Indonesia. Sebuah pilihan nama bangsa yang sarat bermuatan politik. Dalam forum itu pula, salah seorang anggota Indonesische Vereeniging mengatakan bahwa dari sekarang kita mulai membangun Indonesia dan meniadakan Hindia atau Nederland Indie. Pada tahun 1927, Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme di Belanda, dan di sinilah ia bersahabat dengan nasionalis India, Jawaharlal Nehru. Aktivitasnya dalam organisasi ini menyebabkan Hatta ditangkap pemerintah Belanda. Hatta akhirnya dibebaskan, setelah melakukan pidato pembelaannya yang terkenal: Indonesia Free. Pada tahun 1932 Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia yang bertujuan meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia melalui proses pelatihan-pelatihan. Belanda kembali menangkap Hatta, bersama Soetan Sjahrir, ketua Club Pendidikan Nasional Indonesia pada bulan Februari 1934. Hatta diasingkan ke Digul dan kemudian ke Banda selama 6 tahun. Pada tahun 1945, Hatta secara aklamasi diangkat sebagai wakil presiden pertama RI, bersama Bung Karno yang menjadi presiden RI.

    3.  Ki Hajar Dewantara

 Pendiri Taman Siswa ini adalah Bapak Pendidikan Nasional. Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Hari lahirnya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya yang terkenal ialah tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan). Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 28 April 1959 dan dimakamkan di sana.Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. Perjalanan hidupnya benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsanya. Ia menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam dan patriotik sehingga mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya. Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Pada tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kemudian, bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka.Mereka berusaha mendaftarkan organisasi ini untuk memperoleh status badan hukum pada pemerintah kolonial Belanda. Tetapi pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg berusaha menghalangi kehadiran partai ini dengan menolak pendaftaran itu pada tanggal 11 Maret 1913. Alasan penolakannya adalah karena organisasi ini dianggap dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan menggerakan kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda.Kemudian setelah ditolaknya pendaftaran status badan hukum Indische Partij ia pun ikut membentuk Komite Bumipoetra pada November 1913. Komite itu sekaligus sebagai komite tandingan dari Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda. Komite Boemipoetra itu melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut. Sehubungan dengan rencana perayaan itu, ia pun mengkritik lewat tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga). Tulisan Seandainya Aku Seorang Belanda yang dimuat dalam surat kabar de Expres milik dr. Douwes Dekker itu antara lain berbunyi: “Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun”. Akibat karangannya itu, pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan, berupa hukuman internering (hukum buang) yaitu sebuah hukuman dengan menunjuk sebuah tempat tinggal yang boleh bagi seseorang untuk bertempat tinggal. Ia pun dihukum buang ke Pulau Bangka. Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo merasakan rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil. Mereka pun menerbitkan tulisan yang bernada membela Soewardi. Tetapi pihak Belanda menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memusuhi dan memberontak pada pemerinah kolonial. Akibatnya keduanya juga terkena hukuman internering. Douwes Dekker dibuang di Kupang dan Cipto Mangoenkoesoemo dibuang ke pulau Banda. Namun mereka menghendaki dibuang ke Negeri Belanda karena di sana mereka bisa memperlajari banyak hal dari pada didaerah terpencil. Akhirnya mereka diijinkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman. Kesempatan itu dipergunakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berhasil memperoleh Europeesche Akte. Kemudian ia kembali ke tanah air di tahun 1918. Di tanah air ia mencurahkan perhatian di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan. Setelah pulang dari pengasingan, bersama rekan-rekan seperjuangannya, ia pun mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.Tidak sedikit rintangan yang dihadapi dalam membina Taman Siswa. Pemerintah kolonial Belanda berupaya merintanginya dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932. Tetapi dengan kegigihan memperjuangkan haknya, sehingga ordonansi itu kemudian dicabut. Di tengah keseriusannya mencurahkan perhatian dalam dunia pendidikan di Tamansiswa, ia juga tetap rajin menulis. Namun tema tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Tulisannya berjumlah ratusan buah. Melalui tulisan-tulisan itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia. Sementara itu, pada zaman Pendudukan Jepang, kegiatan di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan. Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943, Ki Hajar duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur. Setelah zaman kemedekaan, Ki hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Nama Ki Hadjar Dewantara bukan saja diabadikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan (bapak Pendidikan Nasional) yang tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Penghargaan lain yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957. Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa itu, ia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana. Kemudian oleh pihak penerus perguruan Taman Siswa, didirikan Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta, untuk melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Dalam museum ini terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hadjar sebagai pendiri Tamansiswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya tulis atau konsep dan risalah-risalah penting serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hadjar sebagai jurnalis, pendidik, budayawan dan sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan dilaminasi atas bantuan Badan Arsip Nasional. Bangsa ini perlu mewarisi buah pemikirannya tentang tujuan pendidikan yaitu memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya, serta harus didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi.

   4.  Raden Ajeng Kartini

 Door Duistermis tox Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang, itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya. Buku itu menjadi pedorong semangat para wanita Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya. Perjuangan Kartini tidaklah hanya tertulis di atas kertas tapi dibuktikan dengan mendirikan sekolah gratis untuk anak gadis di Jepara dan Rembang. Upaya dari puteri seorang Bupati Jepara ini telah membuka penglihatan kaumnya di berbagai daerah lainnya. Sejak itu sekolah-sekolah wanita lahir dan bertumbuh di berbagai pelosok negeri. Wanita Indonesia pun telah lahir menjadi manusia seutuhnya. Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya. Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu. Pada saat itu, Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879, ini sebenarnya sangat menginginkan bisa memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, namun sebagaimana kebiasaan saat itu dia pun tidak diizinkan oleh orang tuanya. Dia hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar. Setamat E.L.S, Kartini pun dipingit sebagaimana kebiasaan atau adat-istiadat yang berlaku di tempat kelahirannya dimana setelah seorang wanita menamatkan sekolah di tingkat sekolah dasar, gadis tersebut harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah. Merasakan hambatan demikian, Kartini remaja yang banyak bergaul dengan orang-orang terpelajar serta gemar membaca buku khususnya buku-buku mengenai kemajuan wanita seperti karya-karya Multatuli “Max Havelaar” dan karya tokoh-tokoh pejuang wanita di Eropa, mulai menyadari betapa tertinggalnya wanita sebangsanya bila dibandingkan dengan wanita bangsa lain terutama wanita Eropa. Dia merasakan sendiri bagaimana ia hanya diperbolehkan sekolah sampai tingkat sekolah dasar saja padahal dirinya adalah anak seorang Bupati. Hatinya merasa sedih melihat kaumnya dari anak keluarga biasa yang tidak pernah disekolahkan sama sekali. Sejak saat itu, dia pun berkeinginan dan bertekad untuk memajukan wanita bangsanya, Indonesia. Dan langkah untuk memajukan itu menurutnya bisa dicapai melalui pendidikan. Untuk merealisasikan cita-citanya itu, dia mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semuanya itu diberikannya tanpa memungut bayaran alias cuma-cuma. Bahkan demi cita-cita mulianya itu, dia sendiri berencana mengikuti Sekolah Guru di Negeri Belanda dengan maksud agar dirinya bisa menjadi seorang pendidik yang lebih baik. Beasiswa dari Pemerintah Belanda pun telah berhasil diperolehnya, namun keinginan tersebut kembali tidak tercapai karena larangan orangtuanya. Guna mencegah kepergiannya tersebut, orangtuanya pun memaksanya menikah pada saat itu dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang. Berbagai rintangan tidak menyurutkan semangatnya, bahkan pernikahan sekalipun. Setelah menikah, dia masih mendirikan sekolah di Rembang di samping sekolah di Jepara yang sudah didirikannya sebelum menikah. Apa yang dilakukannya dengan sekolah itu kemudian diikuti oleh wanita-wanita lainnya dengan mendirikan ‘Sekolah Kartini’ di tempat masing-masing seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon. Sepanjang hidupnya, Kartini sangat senang berteman. Dia mempunyai banyak teman baik di dalam negeri maupun di Eropa khususnya dari negeri Belanda, bangsa yang sedang menjajah Indonesia saat itu. Kepada para sahabatnya, dia sering mencurahkan isi hatinya tentang keinginannya memajukan wanita negerinya. Kepada teman-temannya yang orang Belanda dia sering menulis surat yang mengungkapkan cita-citanya tersebut, tentang adanya persamaan hak kaum wanita dan pria. Setelah meninggalnya Kartini, surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Apa yang terdapat dalam buku itu sangat berpengaruh besar dalam mendorong kemajuan wanita Indonesia karena isi tulisan tersebut telah menjadi sumber motivasi perjuangan bagi kaum wanita Indonesia di kemudian hari. Apa yang sudah dilakukan RA Kartini sangatlah besar pengaruhnya kepada kebangkitan bangsa ini. Mungkin akan lebih besar dan lebih banyak lagi yang akan dilakukannya seandainya Allah memberikan usia yang panjang kepadanya. Namun Allah menghendaki lain, ia meninggal dunia di usia muda, usia 25 tahun, yakni pada tanggal 17 September 1904, ketika melahirkan putra pertamanya. Mengingat besarnya jasa Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara, pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini. Belakangan ini, penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar agak diperdebatkan. Dengan berbagai argumentasi, masing-masing pihak memberikan pendapat masing-masing. Masyarakat yang tidak begitu menyetujui, ada yang hanya tidak merayakan Hari Kartini namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya. Namun yang lebih ekstrim mengatakan, masih ada pahlawan wanita lain yang lebih hebat daripada RA Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya. Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah dalam skop nasional. Sekalipun Sumpah Pemuda belum dicetuskan waktu itu, tapi pikiran-pikirannya tidak terbatas pada daerah kelahiranya atau tanah Jawa saja. Kartini sudah mencapai kedewasaan berpikir nasional sehingga nasionalismenya sudah seperti yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda 1928. Terlepas dari pro kontra tersebut, dalam sejarah bangsa ini kita banyak mengenal nama-nama pahlawan wanita kita seperti Cut Nya’ Dhien, Cut Mutiah, Nyi. Ageng Serang, Dewi Sartika, Nyi Ahmad Dahlan, Ny. Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, dan lainnya. Mereka berjuang di daerah, pada waktu, dan dengan cara yang berbeda. Ada yang berjuang di Aceh, Jawa, Maluku, Menado dan lainnya. Ada yang berjuang pada zaman penjajahan Belanda, pada zaman penjajahan Jepang, atau setelah kemerdekaan. Ada yang berjuang dengan mengangkat senjata, ada yang melalui pendidikan, ada yang melalui organisasi maupun cara lainnya. Mereka semua adalah pejuang-pejuang bangsa, pahlawan-pahlawan bangsa yang patut kita hormati dan teladani. Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi. Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut. Perjuangan memang belum berakhir, di era globalisasi ini masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan. Itu semua adalah sisa-sisa dari kebiasaan lama yang oleh sebagian orang baik oleh pria yang tidak rela melepaskan sifat otoriternya maupun oleh sebagian wanita itu sendiri yang belum berani melawan kebiasaan lama. Namun kesadaran telah lama ditanamkan kartini, sekarang adalah masa pembinaan.

   5.  Wage Rudolf Supratman

 Tingginya jiwa kebangsaan dari Wage Rudolf Supratman menuntun dirinya membuahkan karya bernilai tinggi yang di kemudian hari telah menjadi pembangkit semangat perjuangan pergerakan nasional. Semangat kebangsaan, rasa persatuan dan kehendak untuk merdeka dalam jiwanya dituangkan dalam lagu gubahannya Indonesia Raya. Lagu yang kemudian menjadi lagu kebangsaan negeri ini. Penolakan jiwanya terhadap penjajahan, pernah juga dituliskannya dalam bukunya yang berjudul Perawan Desa. Namun sayang, Pahlawan nasional yang lahir 9 Maret 1903 ini sudah meninggal pada tanggal 17 Agustus 1938, sebelum mendengar lagu gubahannya dikumandangkan pada hari kemerdekaan negeri yang dicintainya. Supratman tepatnya lahir di Jatinegara, Jakarta, tanggal 9 Maret 1903. Menamatkan sekolah dasarnya di Jakarta, kemudian melanjutkan ke Normaal School Ujungpandang. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia masih tetap tinggal di Ujungpandang dan sempat bekerja sebagai guru Sekolah Dasar kemudian ke sebuah perusahaan dagang. Kebolehannya bermain musik biola serta menggubah lagu diperolehnya dari kakaknya semasa menjalani pendidikan dan bekerja di Ujungpandang ini. Dari Ujungpandang, ia kemudian pindah ke Bandung menekuni profesi sebagai seorang wartawan. Profesi itu terus ditekuninya hingga ia akhirnya mudik ke kota kelahirannya, Jakarta. Ia sebenarnya merupakan putra dari seorang Tentara Hindia Belanda (KNIL), tapi tidak dengan begitu ia menjadi antek Belanda yang tidak mempunyai jiwa kebangsaan Indonesia. Malah sebaliknya, jiwa kebangsaannya sangat tinggi. Jiwa kebangsaan itu semakin mengental pada dirinya terutama setelah banyak bertemu dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional sejak ia menekuni profesi kewartawanan. Rasa tidak senangnya terhadap penjajahan Belanda pernah dituangkannya dalam bukunya yang berjudul Perawan Desa. Buku yang mengandung nilai-nilai nasionalitas dan menyinggung pemerintahan Belanda itu akhirnya oleh pemerintah Belanda, disita dan dilarang beredar. Kilas balik dari lahirnya lagu Indonesia Raya sendiri adalah berawal dari ketika suatu kali terbacanya sebuah karangan dalam Majalah Timbul. Penulis karangan tersebut menentang ahli-ahli musik Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan. Supratman yang sudah semakin kental jiwa kebangsaannya merasa tertantang. Sejak itu, ia mulai menggubah lagu. Dan pada tahun 1924 lahirlah lagu Indonesia Raya. Ketika Kongres Pemuda, yakni kongres yang melahirkan Sumpah Pemuda dilangsungkan di Jakarta bulan Oktober tahun 1928, secara instrumentalia Supratman memperdengarkan lagu ciptaannya itu pada malam penutupan acara tanggal 28 Oktober 1928 tersebut. Disitulah saat pertama lagu tersebut dikumandangkan di depan umum. Lagu yang sangat menggugah jiwa patriotisme itupun dengan cepat terkenal di kalangan pergerakan nasional. Sehingga sejak itu apabila partai-partai politik mengadakan kongres, lagu Indonesia Raya, lagu yang menjadi semacam perwujudan rasa persatuan dan kehendak untuk merdeka itu selalu dinyanyikan. Dan ketika Indonesia sudah memperoleh kemerdekaan, para pejuang-pejuang kemerdekaan menjadikan lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan. Dan, Wage Rudolf Supratman yang meninggal dan dimakamkan di Surabaya tanggal 17 Agustus 1938, dikukuhkan menjadi Pahlawan Nasional atas segala jasa-jasanya untuk nusa dan bangsa tercinta ini.
Pengusaha Sukses dari Indonesia : Achmad Bakrie

Pengusaha Sukses dari Indonesia : Achmad Bakrie

"Kami berbicara soal bisnis sepanjang waktu bersama keluarga"
Achmad Bakrie adalah sosok pengusaha pribumi yang bisnisnya tak lekang dimakan zaman. Kesuksesan Grup Bakrie Brothers menepis mitos mandulnya pengusaha pribumi yang jarang berhasil karena jerih p
ayahnya sendiri. Tokoh dibalik perusahaan papan atas ini adalah Achmad Bakrie. Kerja keras menjadi nama tengahnya. 
Atuk --panggilan akrab Achmad Bakrie-- lahir di kalianda, Lampung, pada 11 Juni 1916. Bakat entrepreneur-nya sudah terlihat sejak masih kanak-kanak. Saat umurnya masih 10 tahun, ia berjualan roti untuk mengisi waktu libur. Agaknya kondisi ini juga ia terapkan pada sang anak, Aburizal Bakrie, yang harus berdagang tas karena uang saku yang diberikan Achmad Bakrie begitu sedikit. Selamat dari HIS (setingkat sekolah dasar di zaman Belanda), Achmad Bakrie bekerja sebagai jaja keliling pada NV Van Gorkom, sebuah perusahaan dagang Belanda (1938). Meski hanya selama dua tahun di perusahaan ini, ia banyak mendapat pengalaman tentang organisasi modern.
 
 Setahun setelah Achmad Bakrie menyelesaikan sekolah dasar dagang Hendlesinstituut Schoevers, tahun 1940, Achmad Bakrie membuka CV Bakrie Brothers di Telukbetung. Perusahaan yang berdagang karet, lada dan kopi. Di zaman pendudukan Jepang, perusahaannya sempat berganti nama menjadi Jasumi Shokai. Dalam perkembangannya, Bakrie Brothers juga menambah industri pabrik pipa baja dan pabrik kawat. Di paruh akhir dasawarsa 1950-an, Achmad Bakrie mendirikan pabrik pengolahan karet mentah. Pengusaha otodidak ini meninggal di Tokyo, 15 Februari 1988.
Aburizal Bakrie adalah anak sulung Achmad Bakrie yang kemudian meneruskan bisnis Group Bakrie. Ada satu kenangan manis yang dialami Aburizal Bakrie saat ayahnya masih hidup. Ketika tahu Aburizal Bakrie mengalamu kerugian dalam usahanya, sang ayah malah berkata "saya senang kamu gagal. Kau harus tahu arti kegagalan, agar nanti berhasil".
         Dibawah kepemimpinan Aburizal Bakrie, Bakrie & Brothers kini menjadi perusahaan konglomerasi yang bidang ushanya merambah ke berbagai bidang, mulai perkebunan sampai telekomunikasi.

10 Kota Paling Indah Di Indonesia

Inilah sepuluh kota terindah di indonesia.

10. Bukit Tinggi

Inilah dia Kota Terindah di Indonesia. Kenapa demikian? Kota kecil yang padat dan tertata dengan baik dan apik ini memiliki kompleksitas yang tidak dimiliki kota manapun di Indonesia.
Kota Bukittinggi adalah Kota yang terkenal dengan slogan kota wisata juga memiliki kualitas pendidikan terbaik di pulau sumatra. Pemandangan alam yang menakjubkan diapit oleh dua gunung sebagai latar, dan jurang bernama ngarai Sianok yang konon merupakan ngarai terindah kedua setelah Grand Canyon di Colorado Amerika Serikat. Di Kota Bukittinggi kultur dan adat minang yang unik terjaga dengan baik. Dengan berjalan kaki, udara Bukittinggi yang dingin akan membuat anda betah untuk berlama lama di kota yang pernah menjadi Ibukota negara Indonesia pada PDRI ini. DI Bukittinggi terdapat istana Presiden Tri Arga, Perpustakaan terbesar di Indonesia dan tentunya Land Mark Jam Gadang yang sudah kesohor gingga ke mancanegara. Di kota ini pula hotel hotel bertebaran dimana mana, mulai dari hotel berbintang hingga kelas melati. Kota Bukittinggi juga sering dijadikan sebagai tempat pertemuan dan convensi Pemwerintah RI dengan pemrintah luar. Kota menakjubkan di jantung Sumatera Barat anda akan mudah menemui bule bule berjalan kakai menikmati kota yang sangat indah dan lovable ini. Diperkirakan banyak kalangan bahwa Kota Ini akan menjadi pusat kunjungan turis utama di Asia Tenggara.

9. Manado

Kota yang pemandangan lautnya menakjubkan ini semakin tumbuh pesat. Keindahan alam bawah laut adalah keunggulan kota di Sulaewesi Utara ini... dengan taman laut Bunaken kota ini semakin menjadi menarik untuk di kunjungi.posisi Kota Tomohon yang berdekatan membuat Menado semakin menarik lagi, karena Tomohon saat ini mendeklarasikan sebagai Kota Bunga. Kunjungilah Manado dan anda akan dibuak takjub.
8. Jakarta
Ibu kota Republik Indonesia ini merupakan salah satu kota paling padat di dunia dengan jumlah penduduk diperkirakan mencapai 11 juta lebih. Kabar bahagianya Kota metropolitan yang konon katanya sebagai salah satu kota paling kotor di ASIA. Saat ini jauh menanjak menjadi Kota Terbersih ke-3 di Asia, hebat bukan? Kota ini memiliki pemandangan pencakar langit yang menakjubkan, selain kepulauan seribu yang cantik. Pemandangan metropolitan merupakan kelebihan Jakarta yang tidak dimiliki kota lainnya di Indonesia.

7. Ambon

Kota yang menjadi pusat pemerintahan Provinsi Maluku ini memang salah satu kota yang paling indah di timur jauh Indonesia. Amon Manise! Kota yang terletak di tepai garis pantai teluk Ambon ini menawarkan pemandangan laut yang indah dan perbukitan yang menakjubkan.
6. Mataram
Kota ini memang indah, terletak di Pulau Lombok yang terkenal akan pemandangan alam dan lautnya menempatkan Mataran sebagai kota terindah ke-6 di Indonesia. Bahkan saat ini Lombok adalah pulau yang akan menyaingi Bali dari segi kunjungan wisatawan asing. Senggigi beach adalah pantai yang kudu di kunjungi di Mataram.

5. Makassar

Pantai Losari mejadi icon kota yang terletak di selat ujung pandang ini. Kota yang memiliki pertumbuhan signifikan di Indoensia bagian tengah ini memang pantas disebut sebagai salah satu kota paling indah di Indonesia. Ditambah dengan sarana international airport yang mewah kota ini menjadi pusat tujuan wisata yang bagus.




4. Padang

Ibokota Provinsi Sumatera Barat ini memiliki Pantai yang Indah. Bahkan Pulau Sikuai yang secara administratif adalah bagian dari Kota Padang di sebut sebagai Pulau Terindah di Indonesia menglahakan indahnya pulau Bali. Hal ini dikarenakan Pulau yang masih virgin bersih dan dikcitarasanya. selain itu di Kota Padang Anda juga bisa menikmasti wisata kota tua. padang memang Indah.

3. Denpasar

Kota ini sudah sepantasnya mendapatkan posisi sebagai kota Terindah. Kota yang terletak yang konon katanya sebagai pulau surga dunia ini memiliki kekayaan kultur yang unik, dengan masyarakat yang ramah dan tentunya pemandangan alamnya yang menakjubkan.





2. Jogjakarta

Kota budaya ini menempati uratan ke-2 sebagai kota paling indah di Indonesia. Kultur budaya yang unik, seni dan adat yang terjaga dan pusat pernak pernik kerajinan tangan yang dicintai para turis ada di Kota ini. Kota pelajar yang semakin menurun drastis dalam hal moralitas ini juga indah dari segi pemandangan alamnya. View parangtritis kemudian posisi yang relatif dekat dengan Prambanan dan Borobudur membuat kota ini ramai dikunjuni wisatawan.


1. Kepulauan Bangka Belitung

Kota indah ini menempati uratan pertama sebagai kota paling indah di Indonesia Kepulauan Bangka Belitung adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terdiri dari dua pulau utama yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung serta pulau-pulau kecil seperti P. Lepar, P. Pongok, P. Mendanau dan P.
Selat Nasik, total pulau yang telah bernama berjumlah 470 buah dan yang berpenghuni hanya 50 pulau. Bangka Belitung terletak di bagian timur Pulau Sumatera, dekat dengan Provinsi Sumatera Selatan. Bangka Belitung dikenal sebagai daerah penghasil timah, memiliki pantai yang indah dan kerukunan antar etnis. Ibu kota provinsi ini ialah Pangkalpinang.