Genghis Khan, Sejarah Penemuan Kerajaan Mongolia

Genghis Khan adalah penguasa dari Asia Tengah yang hidup sekitar abad 12 – 13. Ia merupakan pendiri kerajaan Mongolia, salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah. Pada hari kematiannya, kerajaan Mongolia telah menguasai wilayah Cina dan Asia Tengah, dan pasukannya telah menjelajah hingga mencapai wilayah Kiev di Ukraina.
Menurut para sejarawan, Genghis Khan diperkirakan lahir pada sekitar tahun 1160 dan meninggal pada Agustus 1227. Genghis Khan sering dianggap penguasa paling kejam dalam memperluas wilayah kekuasaan dari kerajaan Mongolia. Meski begitu, ia juga berhasil menstabilkan situasi politik di Jalur Sutra. Pada masa kekuasaannya, ia mampu meningkatkan perdagangan penduduk Asia di wilayah Timur Laut dengan penduduk Timur Tengah dan Eropa.

Kelahiran dan Masa Muda

Genghis Khan terlahir bernama Temujin. Ayahnya, bernama Yesukai, merupakan pemimpin 40.000 keluarga yang tergabung dalam klan Borjigin. Pada saat itu, Mongolia terdiri dari berbagai klan dan suku. Ibu Temujin, Hoelun, merupakan wanita yang sengaja diculik anggota klan untuk dipaksa menjadi istri Yesukai. Nama Temujin diberikan untuk merayakan kemenangan atas suku musuh, yang pemimpinnya juga bernama Temujin.
Kehidupan Genghis Khan kecil tidak banyak diketahui, akan tetapi kemungkinan besar ia menjalani situasi keras dan kasar karena menjalani kehidupan nomaden. Ia tinggal bersama kepala suku yang berperang, mabuk, bertarung, menikah, dan tidur ditemani senjata. Kehidupannya dekat dengan penderitaan, kelaparan, dan mesti berbagi dengan seluruh anggota suku.
Pada usia 9 tahun, Temujin bertunangan dengan Börte, anak perempuan berusia 10 tahun dari Dai Sechen, pemimpin dari suku Jungirat. Beberapa tahun setelah bertunangan, ayah Temujin meninggal dan kekuatan keluarganya mulai memudar akibat beberapa pengikut mulai meninggalkan klan. Temujin, bersama keluarga dan pengikut, terpaksa mencari kehidupan di padang rumput yang gersang, serta bertempur dengan klan lain dan gerombolan perompak.

Munculnya Genghis Khan

Setelah beberapa tahun tinggal klannya, Temujin merasa cukup kuat untuk menemui Dai Sechen dan menikahi Börte. Akan tetapi, Temujin ternyata tidak sekuat yang ia pikirkan. Dalam perjalanan pulang, Borte diculik dalam serangan yang dilakukan suku Merkit. Temujin mencari bantuan dari temannya Jamuqa dan Toghrul untuk membebaskan Börte. Mereka berhasil menyelamatkan Börte dan Temujin akhirnya menikah Börte.
Temujin berusaha menyatukan Mongolia. Saat itu, wilayah Mongolia terdiri dari berbagai suku (termasuk Mongolia sendiri) dan saling berperang satu sama lain. Pada tahun 1190, Temujin dan pengikutnya berhasil menyatukan wilayah konfederasi Mongolia (sebagan kecil wilayah Mongolia saat ini) dan menjadi penguasa. Meski awalnya Temujin membangun kekuasaan secara kekeluargaan, perlahan ia menjadi cenderung menghargai kualitas dan loyalitas. Pada saat itu, ia memberlakukan aturan Yassa. Aturan tersebut menjanjikan warga sipil dan tentara memperoleh kekayaan dari pembagian harta rampasan perang secara merata.
Upaya Temujin menjadi menyatukan seluruh wilayah Mongolia membuatnya bersekutu dengan Toghrul pada tahun 1200. Mereka sukses menaklukkan suku Tatar pada tahun 1202. Akan tetapi, persekutuan keduanya pecah setahun kemudian dan Toghrul terbunuh pada peperangan antar keduanya.
Pada 1206, Temujin sukses menguasai hampir seluruh wilayah Mongolia. Kekuatannya membuat suku yang tersisa terpaksa mengalah dan mengakui dirinya sebagai pemimpin. Atas keberhasilan Temujin menjadi pemimpin Mongolia, ia mengambil nama sebagai Genghis Khan. Khan merupakan julukan yang diberikan kepada penguasa, sedangkan arti dari Genghis masih diperdebatkan. Beberapa mengartikan Genghis sebagai “lautan”, namun kata Genghis Khan biasanya diartikan “pemimpin tertinggi”.

Membangun Kerajaan Mongolia

Setelah berhasil menyatukan Mongolia, Genghis Khan memperluas wilayah kekuasaan melawan Dinasti Jin dan berhasil menguasai ibukota Zhongdu (berlokasi di dekat Beijing) pada tahun 1215. Ia melanjutkan memperluas wilayah hingga Asia Tengah. Pada tahun 1219, Genghis Khan berhasil mengalahkan kerajaan Khawarizm dengan membawa sekitar 200.000 pasukan.
Alasan Genghis Khan menyerang kerajaan Khawarizm masih menjadi perdebatan. Salah satu kemungkinan adalah Mongolia mengalami kekurangan pasokan hewan. Genghis Khan diperkirakan menyerang negara lain untuk mendapat pasokan hewan dan mencegah kelaparan. Kemungkinan lainnya adalah cuaca kering yang terjadi di Mongolia sehingga Genghis Khan memutuskan mencari wilayah baru bagi rakyatnya.
Penaklukan yang cepat dan agresif dari pasukan Mongol ini mengejutkan dunia. Genghis Khan hanya menggunakan taktik perang lama dan mestinya membutuhkan ilmu dari negara lain untuk mempelajari taktik perang terbaru. Meskipun demikian, Genghis Khan ternyata berhasil mengubah sistem pemerintahan dan organisasi. Ia juga mengubah masyarakat Mongolia dari suku terbelakang menjadi salah satu kelompok yang berhasil menjalankan pemerintahan.
Saat Genghis Khan menguasai wilayah diluar Mongolia, ia mulai menerapkan struktur administratif yang lebih rumit dan sistem pajak yang teratur. Ia juga merekrut penduduk setempat, seperti Turki, Cina, dan lainnya, untuk merancang sistem yang lebih stabil agar dapat menciptakan pemerintahan yang lebih teratur.
Sejalan dengan pemikirannya, Genghis Khan menciptakan aturan pada setiap kesempatan dan aturan tersebut berlaku untuk setiap situasi. Selain itu, ia juga tegas menghukum setiap pelaku kriminal. Aturan Yassa tetap ditegakkan sehingga setiap pasukannya mendapat harta jarahan perang secara merata. Ia juga selalu memastikan pasukannya mengikuti latihan rutin dengan fokus latihan berburu. Kebijakan militer Genghis Khan membuat pasukannya tetap kompak, bahkan saat mereka berada jauh dari kampung halaman.
Genghis Khan juga selalu meminta pasukannya untuk tidak menghancurkan karya seni dan artistik, serta membebaskan para pemuka agama. Ia sangat menghormati orang yang taat pada ajaran agama, meski Genghis Khan tidak meyakini ajaran tersebut. Genghis Khan sendiri mengikuti sistem keyakinan Shamanisme (semacam aliran dukun) yang berasal dari kampung halamannya di Mongolia.

Kematian Genghis Khan

Di akhir usianya, Genghis Khan menemui pendeta Taoisme yang ia percaya mengetahui rahasia kehidupan abadi. Namun di tengah perjalanan, ia mesti menghadapi serangan orang Tangut yang merasa Genghis Khan telah mengingkari perjanjian dengan mereka.
Pada 1226, Genghis Khan memulai serangan balasan terhadap suku Tangut. Ia dengan cepat mengambil alih beberapa wilayah Tangut. Ia berhasil mengepung kota Lingzhou milik Tangut, menyeberangi sungai Kuning, dan mengalahkan pasukan Tangut. Menurut legenda, Genghis Khan melihat garis dari 5 bintang tersusun di langit dan ia menganggapnya sebagai pertanda kemenangannya.
Pada 1227, pasukan Genghis Khan menyerang dan menghancurkan Ning Hia yang merupakan ibukota Tangut. Ia mengambil alih seluruh wilayah Tangut dan beristirahat di Liupanshan untuk menghabiskan musim panas. Akan tetapi, kelompok Tangut ternyata masih memberontak dan hal tersebut memicu kemarahan Genghis Khan. Ia menghancurkan para pemberontak Tangut dan memerintahkan untuk menghukum mati seluruh anggota keluarga kerajaan Tangut, yang akhirnya menghabiskan seluruh garis keturunan Tangut.
Kematian Genghis Khan sendiri masih menjadi misteri. Menurut legenda, Genghis Khan dikebiri putri Tangut menggunakan pisau karena kelakuannya terhadap kaum Tangut dan menghentikan upaya perkosaan dari Genghis Khan terhadap dirinya. Setelah dikebiri, Genghis Khan meninggal dan putri Tangut bunuh diri di Sungai Kuning. Akan tetapi, legenda ini belum terbukti kebenarannya.
Kenyataannya, Genghis Khan memang tewas dalam perjalanan menuju Tangut dan jasadnya dibawa kembali di Mongolia. Ia dikubur dalam makam yang relatif sederhana untuk ukuran penguasa, namun lokasi makamnya belum diketahui hingga kini. Setelah kematiannya, salah satu putranya bernama Ogedai mengambil alih tahta kekuasaan. Meski awalnya penerus Genghis Khan berhasil menjaga kestabilan dan memperluas wilayah kekuasaan, berikutnya Mongolia mengalami konflik dan keberadaannya menjadi terancam. Pada akhirnya, kerajaan ini runtuh pada tahun 1368 setelah sebelumnya beberapa wilayah kekuasaan berhasil memisahkan diri.
- See more at: http://www.bglconline.com/2014/09/genghis-khan-kerajaan-mongolia/#sthash.zYEqRRyf.dpuf

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Suka Artikel ini? Apa komentar anda?